Siapkah UMKM Sambut New Normal? Ini Faktanya

Wilda Fajriah, Jurnalis · Senin 01 Juni 2020 09:07 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 31 320 2222537 siapkah-umkm-sambut-new-normal-ini-faktanya-XiWR9eSn2l.jpg UMKM Indonesia (Okezone)

JAKARTA - Pemerintah siap menerapkan skenario new normal. Skenario new normal dengan menjalankan tingkat kedisiplinan kesehatan tinggi agar aman dari Covid-19 dan produktivitas bisa terjaga yang berujung pada jalannya roda perekonomian.

Terlebih lagi Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto telah merilis Keputusan Menteri Kesehatan nomor HK.01.07/MENKES/328/2020 tentang Panduan Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 di Tempat Kerja Perkantoran dan Industri dalam Mendukung Keberlangsungan Usaha pada Situasi Pandemi.

Lalu bagaimana kesiapan para pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM)? Oleh sebab itu, Jakarta, Senin (1/6/2020), berikut fakta-fakta kesiapan UMKM menghadapi new normal:

 Baca juga: New Normal Pariwisata, Dibuka Bertahap hingga Pengawasan Ketat

1. Tak Semua UMKM Dapat Menerapkan Protokol New Normal

Menurut Ketua Umum Asosiasi UMKM Indonesia (Akumindo) Muhammad Ikhsan Ingratubun, untuk kesiapannya tidak semua UMKM bisa menjalankan panduan kesehatan yang sudah ditetapkan. Hal itu, karena tidak semua bidang usaha memiliki pola kerja dan kemampuan keuangan yang sebanding. Misalnya saja bagi usaha mikro dan kecil.

"Jadi, apabila bisnis usaha menengah atau ritel modern masih bisa. Tapi jika kebijakan itu yang menambah biaya lebih untuk menerapkan itu mungkin sulit dijalankan. Seperti untuk pedagang pasar, itu sulit," ujar dia kepada Okezone.

2. Protokol Kesehatan Mudah Dijalankan

Untuk menjalankan aturan dasar tentang menjaga kebersihan diri sendiri dan mencegah penularan sangat mungkin dijalankan.

"Contohnya terkait memakai masker, cuci tangan, social distancing itu yang paling penting yang wajib dijalankan," ungkap Ketua Umum Asosiasi UMKM Indonesia (Akumindo) Muhammad Ikhsan Ingratubun.

 Baca juga; New Normal, UMKM Sudah Siap?

3. Pengusaha UMKM Dukung New Normal

Asosiasi UMKM Indonesia (Akumindo) mendukung kebijakan new normal yang akan diberlakukan oleh pemerintah. Pasalnya hal itu untuk menggerakkan kembali perekonomian dalam negeri.

"Kami sangat mendukung kebijakan tersebut. Maka intinya adalah ekonomi jalan, kesehatan juga harus tetap diperhatikan," ujar Ketua Umum Asosiasi UMKM Indonesia (Akumindo) Muhammad Ikhsan Ingratubun.

4. Menteri Teten 'Putar Otak' untuk Majukan Koperasi dan UMKM

Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki, mengatakan jumlah populasi UMKM di Indonesia sekitar 64 juta. Sehingga pemerintah tidak dapat bekerja sendiri.

"Pihak kami sudah dan akan terus membuka kerja sama dengan platform e-commerce, warung tradisional, koperasi, lembaga pendidikan dan pelatihan, maupun pihak terkait lainnya, baik online maupun offline, untuk memajukan UMKM di Tanah Air. Khusus dalam kolaborasi dengan platform e-commerce, menggunakan skema non-APBN," ujar dia.

Dia menjelaskan, pihaknya saat ini tengah berkonsentrasi penuh membantu koperasi dan UMKM untuk melewati masa-masa pandemi Covid-19. Sejumlah laporan menunjukkan bahwa di antara UMKM yang bertahan, bahkan tumbuh di tengah masa pandemi, adalah mereka yang sudah terhubung dengan platform online.

"Platform online ini sekaligus membantu masyarakat luas untuk menerapkan physical distancing, sambil tetap memenuhi kebutuhan masing-masing dengan menjaga berlangsungnya aktivitas ekonomi," ungkap dia.

5. 87% UMKM Masih Tertinggal Dalam Digital

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop UKM) menyatakan masih banyak UMKM yang tertinggal. Bahkan, di era digital saat ini.

Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki, mengatakan jumlah populasi UMKM di Indonesia sekitar 64 juta. Sehingga pemerintah tidak dapat bekerja sendiri.

“Saat ini 87% UMKM kita masih tertinggal dalam digital (online)," ujarnya dalam keterangan tertulis.

(rzy)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini