Terdampak Virus Corona, Industri Tembakau Minta Ini ke Sri Mulyani

Giri Hartomo, Jurnalis · Senin 01 Juni 2020 13:23 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 01 320 2222780 terdampak-virus-corona-industri-tembakau-minta-ini-ke-sri-mulyani-dOqfr05su1.jpg Rokok (Ilustrasi: Shutterstock)

JAKARTA - Pandemi virus corona membuat kinerja industri di tanah air mengalami gangguan. Tak terkecuali juga pada industri tembakau atau rokok.

Koordinator Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) Azami Mohammad mengatakan, pemerintah diminta untuk memperhatikan sektor pertembakauan dengan adanya resesi ekonomi di tengah pandemi Covid-19 yang terjadi saat ini. Apalagi, kontribusi industri tembakau atau rokok ini pada penerimaan negara sangat signifikan.

Baca Juga: Tahun Depan, Gambar Seram pada Bungkus Rokok Akan Diperbesar di Singapura

Belum lagi sumbangsih dana bagi hasil cukai tembakau untuk penanganan dan pencegahan virus Covid-19. Oleh karena itu, dirinya berharap agar pemerintah bisa menempatkan industri hasil tembakau ini sama seperti sektor lainnya.

"Kami berharap pemerintah mampu bersikap adil dalam menempatkan industri hasil tembakau sebagai sektor strategis nasional," ujarnya mengutip keterangan tertulis, Senin (1/6/2020).

Oleh karena itu lanjut Azamin, pihaknya menyoroti kebijakan Menteri Keuangan Sri Mulyani tahun 2019 yang menaikkan cukai rokok sebesar 23% dan harga jual eceran (HJE) rokok sebesar 35%. Kebijakan tersebut mengakibatkan harga rokok naik namun penjualannya turun.

Baca Juga: Kemenperin Siapkan Regulasi Baru Produk Industri Hasil Tembakau

Tak hanya itu, petani tembakau juga ikut terkena imbasnya. Sebab hal ini berakibat pada menurunnya jumlah pembelian tembakau oleh industri rokok kepada para petani. "Diperparah oleh Covid-19 dan resesi ekonomi saat ini. Jumlah pembelian tembakau semakin menurun," jelasnya.

Apalagi lanjut Azami, adanya pandemi virus corona ini juga ditunggangi oleh kelompok anti rokok yang mengampanyekan rokok dikaitkan dengan kesehatan. Misalnya dengan melontarkan pendapat mengenai asap rokok dapat menjadi medium penularan Covid-19.

Kemudian, mewacanakan kepada publik bahwa memperluas gambar peringatan pada bungkus rokok dapat mempengaruhi persoalan pandemi Covid-19. Menurut Azami mereka ingin eksis agar dana asing dapat terus mengalir mendanai program-program pengendalian tembakau di Indonesia.

“Wacana tersebut sangat tidak masuk akal, karena tidak memiliki urgensi dan relevansi dalam penanganan Covid-19,” jelas Azami.

Belum lagi lanjut Azami, ada agenda perluasan gambar peringatan di bungkus rokok yang sudah sejak lama digaungkan. Adanya gambar seram sebesar 40% di bungkus rokok sekarang ini merupakan hasil pekerjaan kelompok anti rokok. Kini, mereka mendompleng isu Covid-19 untuk mendorong perluasan gambar peringatan menjadi sebesar 90%.

"Sejauh ini strategi perluasan gambar peringatan di bungkus rokok sama sekali tidak terbukti mengurangi pravelensi perokok di Indonesia. Jika strategi ini tidak berhasil kenapa masih terus didorong?," ucap Azami

Adanya kampanye ini juga membuat industri tembakau mulai terganggu. Hal tersebut ditandai dengan adanya penurunan jumlah pabrik rokok di Indonesia. Merujuk data Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI),terdapat penurunan jumlah pabrik rokok yang aktif berproduksi. Pabrikan rokok di Indonesia yang memiliki izin sebanyak 600 pabrik, namun hanya 100 pabrik yang masih aktif berproduksi setiap harinya.

“Maka tak heran jika banyak pabrikan rokok kecil yang gulung tikar. Padahal pabrik rokok kecil ini mempunyai manfaat yang besar terhadap penyerapan tenaga kerja bagi masyarakat sekitar,” jelasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini