Wamen BUMN: Utang Klaim Asuransi Jiwasraya Jadi Rp18 Triliun

Giri Hartomo, Jurnalis · Selasa 07 Juli 2020 18:07 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 07 320 2242658 wamen-bumn-utang-klaim-asuransi-jiwasraya-jadi-rp18-triliun-AZ5cQcatMD.jpg Rupiah (Foto: Okezone)

JAKARTA - Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) membeberkan kondisi terkini dari utang PT Asuransi Jiwasraya (Persero). Per 31 Mei 2020, utang Jiwasraya kepada para nasabahnya mencapai Rp18 triliun atau naik dari utang sebelumnya yang hanya Rp16 triliun.

Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) II Kartika Wirjoatmodjo mengatakan, dari jumlah tersebut, Rp16,5 triliun di antaranya adalah klaim yang belum terbayar dari saving plan. Meskipun pada akhir Maret lalu sudah dibayarkan sekitar Rp470 miliar.

"Posisi per 31 Mei, kondisi klaim yang terjadi dan belum terbayar itu dari saving plan itu ada sekitar Rp16,5 triliun," ujarnya dalam rapat panja di Komisi VI DPR RI, Selasa (7/7/2020).

Baca Juga: Opsi Penyelesaian Kasus Jiwasraya Diputuskan Hari Ini 

Sementara sisanya lanjut pria yang kerap disapa Tiko, Rp600 miliar merupakan klaim asuransi tradisional korporasi yang belum terbayar. Sedangkan untuk korporasi ritel ada sekitar Rp200 miliar dan Rp700 miliar sehingga jika ditotal mencapai Rp1,5 triliun.

"Jadi total Rp1,5 triliun yang tradisional dan juga belum terbayar karena memang kondisi likuditas memburuk," jelasnya.

Tiko menjelaskan, Jiwasraya memang mendapatkan tekanan yang begitu besar. Tekanan pertama adalah dari sisi kanan karena adanya peningkatan liabilitas imbas bunga yang tinggi.

Baca Juga: BPK Prediksi Audit Kerugian Negara dari Jiwasraya Kelar Akhir 2020

Berdasarkan catatannya, saat ini liabilitas yang ditanggung mencapai Rp52,9 triliun. Adapun rinciannya adalah Rp34,6 triliun berasal dari liabilitas polis tradisional dan Rp16,5 triliun merupakan polis saving plan.

"Jiwasraya mendapat tekanan dari dua sisi. sisi kanan meningkatnya liabilitas karena tadi janji janji bunga yang tinggi sekali," jelasnya.

Kemudian tekanan yang kedua adalah ada pada aset. Saat ini nilai aset perusahaan hanya sebesar Rp17 triliun saja.

"Jadi perusahaan ini antara aset dan liabilitas hanya sepertiga jadi. tentunya ini kondisi sangat buruk dan ini membuat RBC minus 1.900 dan ekuitas minus Rp35,9 triliun. Nah kami juga ingin tekankan di sini bahwa dalam perjalanan waktu asuransi punya janji masa depan yang dikalkulasi terus sehingga kalau masalah ini berkepanjangan jumlah negatifnya juga akan meningkat," kata Tiko.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini