Bos KAI Curhat Pendapatan Anjlok Jadi Rp500 Miliar

Giri Hartomo, Jurnalis · Kamis 09 Juli 2020 17:15 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 09 320 2243817 bos-kai-curhat-pendapatan-anjlok-jadi-rp500-miliar-Iyxty4nWME.jpg Kereta (Foto: Ilustrasi Okezone)

JAKARTA - PT Kereta Api Indonesia (Persero) menyebut pandemi virus Corona membuat pendapatan perseroan anjlok. Hal ini disebabkan karena masyarakat masih enggan dan juga takut untuk bepergian menggunakan kereta.

Ditambah lagi, pada semester pertama ini pemerintah mengeluarkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Kebijakan tersebut diambil dalam rangka untuk mencegah penyebaran virus Corona di tanah air.

Direktur Utama PT KAI (Persero) Didiek Hartantyo mengatakan, biasanya KAI membukukan pendapatan sebesar Rp2,3 triliun sebelum adanya Corona. Namun saat ini pendapatan rata-rata KAI mencapai Rp500 Miliar.

"Pendapatan kami mengalami penurunan. Kalau kondisi normal Rp2,3 triliun. Sekarang hanya Rp500 Miliar," ujarnya dalam acara di IDX Channel, Kamis (9/7/2020).

Baca Juga: Bos KAI Ngeluh Banyak Gerbong Kereta Buatan INKA Retak

Penurunan ini berdampak juga pada cashflow perseroan yang mengalami defisit. Tak tanggung-tanggung pada semester I-2020 ini, cashflow perseroan defisit Rp1 triliun.

"Sehingga cashflow kami mengalami defisit Rp1 triliun," ucapnya.

Oleh karena itu lanjut Didiek, untuk menutupi dan membantu cashflow perseroan meminta dana talangan sebesar Rp3,5 triliun kepada pemerintah. Mengingat pada akhir tahun, keuangan KAI diprediksi akan berada pada posisi minus Rp3,4 triliun.

Asal tahu saja, pada awal tahun yakni Januari sebenarnya pendapatan perseroan cukup bagus yakni Rp2,3 triliun. Namun pada Februari, pendapatan prseroan mulai turun menjadi Rp1,2 triliun saja.

Lalu pada Maret, pendapatan perseroan semakin anjlok karena hanya mendapatkan Rp890 miliar saja. Dan penurunan berlanjut hingga April yang hanya membukukan pendapat Rp684 miliar saja.

Baca Juga: KAI Mau Bangun Kereta Tanpa Rel Buatan China di Bali

Sementara itu, perseroan juga harus tetap mengeluarkan biaya operasional yang mana jumlahnya cukup tinggi. Pada Januari alokasinya Rp1,7 triliun, Februari Rp749 miliar, Maret Rp1,4 triliun, dan April Rp1,2 triliun.

Belum lagi, perseroan juga harus menanggung pembayaran bunga dan beban keuangan yang hingga akhir tahun diproyeksi Rp920 miliar. Lalu, ada pembayaran pajak penghasilan Rp479 miliar hingga akhir tahun.

Sehingga jika diakumulasikan, pendapatan sepanjang tahun 2020 diperkirakan hanya mencapai Rp11,98 triliun. Sedangkan pembayaran kepada pemasok dan karyawan PT KAI kebutuhannya mencapai Rp14,02 triliun sampai akhir tahun.

"Jadi kita sudah bicarakan dengan Kementerian BUMN, Kementerian Keuangan disepakati Rp3,5 triliun. Mekanismenya sedang kami tempuh dalam rangka mengkaji dana talangan Rp3,5 triliun," jelasnya.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini