Industri Baja Sudah Sempoyongan Sebelum Covid-19 Imbas Merosotnya Permintaan

Fakhri Rezy, Jurnalis · Sabtu 11 Juli 2020 07:32 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 11 320 2244707 industri-baja-sudah-sempoyongan-sebelum-covid-19-imbas-merosotnya-permintaan-HFDKlpwZlX.jpg Baja (Okezone)

JAKARTA - Sektor usaha terus terdampak wabah virus Corona atau Covid-19 di paruh awal 2020. Beberapa sektor usaha terpaksa menghentikan sementara proses perputaran perekonomian, dari produksi hingga infrastruktur lainnya.

Hal ini juga berdampak di industri baja. Ketua Dewan Pembina Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) mengungkapkan bahwa industri baja sudah merosot bahkan sejak sebelum Covid-19 tiba.

"Covid-19 ini memang membuat kegiatan ekonomi beristirahat, termasuk Indonesia yang bergerak pada UMKM dan beberapa sektor lainnya, termasuk industri baja. Agak sedikit paradoks ya industri baja ini karena sebelum Covid-19, industri baja sudah sempoyongan," ujar Edy, dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Sabtu (11/7/2020).

 Baca juga: Upaya Krakatau Steel Lawan Serangan Produk Baja Impor

Menurut Edy, setelah adanya Covid-19 ini semakin memperburuk keadaan industri baja dalam negeri. Karena semakin merosotnya permintaan baja di masyarakat.

Industri Baja

"Semua kegiatan kontruksi berhenti menyebabkan demand turun lebih dari 50%," tuturnya.

 Baca juga: Soal Bisnis Baja Krakatau Steel, Jokowi Akan Terbang ke Korsel

Berdasarkan data yang dihimpun oleh International Steel Association, saat ini Indonesia menempati urutan ke-26 sebagai negara yang memproduksi baja dengan total produksi sekitar 5,5%. Jumlah tersebut masih jauh tertinggal dengan negara-negara terbesar penghasil baja, seperti China yang produksinya mencapai 928,3 juta ton per tahun dengan persentase 50% baja di dunia diproduksi disana.

Kemudian disusul oleh India dengan 106,5 juta ton per tahun. Serta, Jepang dengan produksi 104,3 juta ton per tahun.

Dirinya pun berpendapat bahwa industri baja sudah seharusnya diperlakukan sebagai industri strategi nasional, karena industri ini memiliki kaitan erat dengan industri lainnya. Jadi, hal ini sudah menjadi tugas bersama untuk mengatasinya.

"Sekarang adalah momen bersama untuk menangani keterpurukan industri baja. Perlu kebijakan yang memihak pada industri ini," ucapnya.

Tapi di sisi lain, Edy menambahkan, ke depan pasar produk plat baja di Indonesia cukup besar dan akan terus tumbuh. Oleh karena itu, Indonesia akan tetap konsisten meningkatkan market-nya di dalam negeri.

"Industri besi atau baja merupakan industri strategis yang memiliki backward and forward linkage serta systemic impacts bagi perekonomian. Banyak negara yang mengembangkan industri besi atau baja at all cost bahkan bagi negara-negara yang tidak memiliki iron ore dan nikel," ungkapnya.

Dia menjelaskan, persaingan juga semakin ketat. Pasalnya, banyak perusahaan baja di dalam negeri yang juga meningkatkan kapasitas produksinya. Oleh sebab itu, para pengusaha yang bergerak di bidang besi atau baja terus melakukan inovasi agar produknya selalu memiliki nilai tambah.

"Kita memiliki semuanya, termasuk demand yang terus meningkat dalam pembangunan nasional. Namun sebelum pandemi Covid-19, kinerja industri baja umumnya sudah menurun dengan tingkat utilisasi 40 persen hingga 60 persen dikarenakan policy behaviour," tuturnya.

Menurutnya, saat ini industri baja memang tengah mengalami tekanan berat akibat pandemi Covid-19. Dalam kondisi tersebut, industri baja harus meningkatkan efisiensi dan meningkatkan produktivitasnya agar setara dengan industri baja global.

"Refocusing kebijakan pada penyelesaian pandemi Covid-19 nampaknya memperburuk perkembangan subsektor baja ini. Padahal, Presiden Jokowi pada bulan Februari 2020 telah meminta semua pihak untuk mendukung pengembangan industri besi atau baja ini," pungkasnya.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini