Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Sempat Larang Karyawan Pakai TikTok, Amazon: Itu Kesalahan

   Sempat Larang Karyawan Pakai TikTok, Amazon: Itu Kesalahan
TikTok (Foto: Business Insider)
A
A
A

JAKARTA - Sekitar lima jam setelah mengirim email internal kepada karyawan yang memberitahu mereka untuk menghapus aplikasi video populer TikTok dari ponsel mereka, Amazon meralatnya, menyebut larangan itu sebagai kesalahan.

"Email pagi ini kepada beberapa karyawan kami dikirim karena kesalahan. Tidak ada perubahan pada kebijakan kami saat ini sehubungan dengan TikTok," demikian email yang dikirim Amazon.

Juru bicara Amazon Jaci Anderson, menolak menjawab pertanyaan mengenai kejadian itu.

Email internal yang disebarluaskan secara online yang meminta karyawan menghapus TikTok juga fokus pada isu meningkatnya keprihatinan atas keamanan nasional dan geopolitik, karena milik China. Email tersebut mengutip "risiko keamanan" aplikasi itu. TikTok adalah sebuah aplikasi video yang semakin populer di kalangan anak muda itu,

Baca Juga: Perjalanan Karier Pendiri TikTok, Sukses di Usia Muda dengan Kekayaan Rp226,8 Triliun 

Seorang karyawan Amazon yang mengkonfirmasi menerima email tersebut namun tidak berwenang untuk berbicara kepada publik, belum melihat pembatalan larangan itu ketika Amazon meralatnya.

Amazon adalah perusahaan swasta AS terbesar kedua setelah Walmart, dengan lebih dari 840 ribu karyawan di seluruh dunia, dan tindakannya terhadap TikTok akan meningkatkan tekanan pada aplikasi tersebut. Aplikasi itu dilarang pada telepon karyawan militer AS dan perusahaan tersebut akan mendapat peninjauan keamanan nasional karena sejarah mergernya. Menlu AS Mike Pompeo minggu ini mengatakan pemerintah pasti mempertimbangkan untuk melarang aplikasi itu.

Baca Juga: Cerita Bos Zoom yang Masuk Daftar Miliarder Baru Dunia 

Raksasa internet China, ByteDance adalah pemilik TikTok, yang dirancang untuk pengguna di luar China; perusahaan itu juga membuat versi Chinanya yang disebut Douyin. Seperti YouTube, TikTok bergantung pada penggunanya untuk konten video yang mengisi aplikasinya. Demikian seperti dilansir VOA Indonesia, Jakarta, Minggu (12/7/2020).

Aplikasi ini terkenal karena video-video yang lucu dan konyol serta populer di kalangan anak muda, termasuk jutaan pengguna di Amerika. Tapi aplikasi ini menimbulkan keprihatinan seperti sensor video, termasuk video yang mengecam pemerintah China; ancaman dibagikannya data pengguna pada pejabat China; dan melanggar privasi anak-anak.

(Dani Jumadil Akhir)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement