Suntik Likuiditas Perbankan hingga Rp633,24 Triliun, Ini Penjelasan Bos BI

Taufik Fajar, Jurnalis · Kamis 16 Juli 2020 18:34 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 16 20 2247531 -NbQ1jcrL4t.jpg Ekonomi RI (Shutterstock)

JAKARTA - Bank Indonesia telah menyuntikan dana likuiditas atau quantitative easing (QE) untuk menyelamatkan perekonomian Indonesia. Pasalnya, BI telah menggelontorkan Rp633,24 triliun hingga 14 Juli 2020.

Menurut Gubernur BI Perry Warjiyo, Quantitative easing ini terdiri dari penurunan Giro Wajib Minimum (GWM) Rp155 triliun dan ekspansi moneter sekitar Rp 462,4 triliun. Di mana Quantitative easing itu, salah satu kebijakan moneter yang dilakukan bank sentral untuk meningkatkan jumlah uang beredar.

 Baca juga:Kabar Baik, Bank Dunia Sebut Ekonomi Indonesia Mulai Pulih Agustus 2020

"Longgarnya kondisi likuiditas ini tercermin pada rendahnya suku bunga pasar uang antar bank, hingga saat ini sekitar 4% pada Juni 2020. Lalu rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (DPK) tetap besar yakni 24,33% pada Mei 2020," ujar dia dalam telekonfrensi, Kamis (16/7/2020).

Kemudian, lanjut dia, saat ini likuiditas yang memadai serta penurunan suku bunga kebijakan (BI7DRR) berkontribusi menurunkan suku bunga perbankan.

"Kemudian dengan adanya penurunan suku bunga PUAB, secara rata-rata tertimbang suku bunga deposito tercatat 5,74% dibandingkan sebelumnya 5,85%. Dan bunga kredit modal kerja 9,48% dibandingkan periode Mei 2020 9,6%," jelas dia.

Baca juga: Aliran Modal Asing Deras, Rupiah Perkasa di Kuartal II-2020

Dia menambahkan, pertumbuhan besaran moneter M1 dan M2 pada Mei 2020 juga meningkat menjadi 9,7% (yoy) dan 10,4% (yoy). Dirinya berharap ekspansi moneter BI yang sementara ini masih tertahan di perbankan dapat lebih efektif mendorong pemulihan ekonomi nasional dengan percepatan realisasi anggaran dan program restrukturisasi kredit perbankan.

"Ke depannya, kami tetap menempuh kebijakan makroprudensial yang akomodatif sejalan dengan bauran kebijakan yang telah diambil sebelumnya. Lalu bauran kebijakan nasional, seperti berbagai upaya untuk memitigasi risiko di sektor keuangan akibat penyebaran Covid-19," tandas dia.

(rzy)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini