JAKARTA - Dampak ekonomi yang disebabkan pandemi Covid-19 jauh lebih dahsyat dari krisis ekonomi yang terjadi di 1998 dan 2008. Apabila tidak diantisipasi maka dampaknya akan lebih suram dari krisis-krisis sebelumnya.
Menurut Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu, kondisi saat ini jauh lebih berat dibandingkan dengan krisis-krisis ekonomi sebelumnya yang pernah menimpa Indonesia.
"Kita tahu musuhnya tapi kita tidak bisa melihatnya. Pengangguran meningkat. Kita bicara ke dunia usaha masyarakat di lapangan, masyarakat sangat struggling, pengusaha warteg harus pulang ke Tegal. Ini luar biasa memang tekanan yang kita hadapi," ujar dia dalam telekonfrensi, Senin (20/7/2020).
Baca Juga: Kemenkeu Pastikan Ekonomi Indonesia Kuartal II-2020 Minus
Sementara itu, Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri menambahkan kondisi saat ini dengan krisis 1998 dan 2008 ada perbedaanya. Di mana saat ini aktivitas ekonomi dan pengangguran tercipta karena didorong oleh pemerintah, bukan timbul sebagai akibat.
"Seluruh aktivitas dihentikan, orang diharuskan bekerja dari rumah, tujuannya untuk mencegah penyebaran pandemi ini," ungkap dia.
Baca Juga: BI: Semua Negara Bisa Resesi
Maka itu, lanjut dia seharusnya masyarakat yang diminta untuk tinggal di rumah dan kehilangan pendapatannya dibayar oleh pemerintah. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) juga dinilai menghantam paling besar masyarakat menengah.
"Hal ini ada persoalan. Jadi saya katakan yang namanya PSBB itu bias kepada menengah ke atas jika perlindungan sosialnya tidak cukup," katanya.
(Dani Jumadil Akhir)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.