Investor Kabur karena Tanah dan Upah Pekerja Mahal? Baca Dulu Faktanya

Safira Fitri, Jurnalis · Minggu 09 Agustus 2020 11:02 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 08 320 2259165 investor-kabur-karena-tanah-dan-upah-pekerja-mahal-baca-dulu-faktanya-w3t7flSkMx.jpg Investasi (Foto: Ilustrasi Okezone.com)

JAKARTA – Realisasi investasi di Indonesia masih rendah. Dalam catatan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi investasi sepanjang triwulan II-2020 sebesar Rp191,9 triliun atau turun 4,3% dibanding periode yang sama tahun lalu. Capaian tersebut di bawah dari target realisasi investasi trwiulan II-2020 lebih dari Rp200 triliun.

Ternyata ada beberapa faktor yang menyebabkan investor malas datang ke Indonesia. Antara lain harga tanah di Indonesia dan upah pekerja mahal. Di sisi lain, perizinan di Indonesia juga menjadi faktor lainnya.

Berikut adalah mengenai fakta investor enggan datang ke Indonesia yang dirangkum Okezone, Minggu (9/8/2020).

1. Harga Tanah Mahal

Kepala BKPM Bahlil Lahadalia mengatakan penyebab utama kesulitannya menarik investasi asing bukan kebijakan fiskal, melainkan mahalnya tanah di Indonesia. Harga tanah dan upah itu terasa paling mahal saat dibandingkan dengan negara-negara ASEAN, seperti Thailand, Filipina, Malaysia, dan Vietnam. Hal ini lah yang membuat daya saing Indonesia masih rendah di ASEAN.

"Banyak yang bertanya kenapa di Indonesia di saat negara lain investasi asing menurun, kok kita landai makanya itu yang kita perbaiki," kata Bahlil dalam webinar,Selasa (4/8/2020).

2. Upah Mahal

Dia melanjutkan masalah yang juga menyebabkan investor enggan berdatangan adalah terkait dengan upah pekerja di Indonesia. Lantaran, rata-rata upah minimum pekerja per bulan di Indonesia menjadi yang paling mahal di antara negara Asean. Rinciannya, rata-rata harga upah minimum pekerja di Indonesia senilai USD279 per bulan atau sekitar Rp4,1 juta.

"Sementara itu, rata-rata upah pekerja di Malaysia hanya USD268 per bulan, Thailand dan Filipina masing-masing USD220 per bulan, dan Vietnam USD182 per bulan," jelasnya.

3. Tarif Air dan Listrik

Dia menambahkan tarif air per meter persegi menjadi yang termahal kedua setelah Filipina. Tarif air rata-rata di Indonesia senilai USD0,89 atau Rp13.000 per meter persegi, sedangkan Filipina USD1,68 per meter persegi. Tarif air di Malaysia dan Vietnam lebih murah, yakni hanya USD0,53 per meter persegi, sedangkan Thailand USD0,4 meter persegi.

"Indonesia tercatat lebih mahal dibanding Malaysia dan Vietnam. Tarif listrik Indonesia senilai USD0,07 atau sekitar Rp1.000 per kWh, sedangkan Malaysia hanya USD0,05 per kWh dan Vietnam USD0,04 per kWh," tandasnya

4. Izin Amdal

Kepala BKPM Bahlil Lahadalia mengatakan biaya untuk mengurus amdal masih cukup tinggi yakni mencapai Rp 1 miliar. Pasalnya pengurusan Amdal untuk investasi kecil cukup memberatkan.

"Amdal tiba ini wajib, tapi kadang-kadang dibuat-buat juga. Contoh, investasi cuma 3.000 meter persegi. Bikin kebun investasinya cuma Rp600 juta, tapi biaya Amdal-nya bisa Rp1 miliar," kata Bahlil dalam webinar, Selasa (4/8/2020).

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini