Belum Pasti Gajian? Dana Darurat Harus Punya

Giri Hartomo, Jurnalis · Sabtu 22 Agustus 2020 14:43 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 22 320 2265742 belum-pasti-gajian-dana-darurat-harus-punya-eGZhsXCrQG.jpeg Gaji (Foto: Ilustrasi Shutterstock)

JAKARTAKrisis ekonomi yang terjadi di dunia mempengaruhi pendapatan sejumlah perusahaan. Apalagi perusahaan yang memiliki usaha ekspor ke negara yang sempat menerapkan kebijakan lockdown.

Pendapatan perusahaan yang tak pasti ditakutkan berdampak pada pembayaran gaji karyawan. Para pegawai khawatir jika bulan depan perusahaan tidak bisa membayar gaji dengan penuh.

Mengantisipasi kejadian tersebut, Perencana Keuangan Andi Nugroho mengatakan, hal pertama yang bisa dilakukan adalah mengerem pengeluaran. Khususnya pengeluaran yang sifatnya foya-foya atau leasure.

Baca Juga: Bagaimana Cara Mengelola Keuangan di Tengah Ancaman Resesi?

Menurut Andi, mulai sejak dini mengalokasikan pengeluaran untuk dana darurat. Atau bisa juga kamu mengalokasikan penghasilan kamu untuk investasi meskipun jumlahnya tidak terlalu besar.

"Mengerem dulu untuk pengeluarannya. Jadi jangan berfoya-foya dulu. Artinya jajan jajan dikurangi. Terus kemudian pengeluaran difokuskan untuk dana darurat dan tabungan. Bahkan dikit-dikit mulai berinvestasi artinya jangan terlalu banyak," ujarnya saat dihubungi Okezone, Sabtu (22/7/2020).

Baca juga: Piknik saat Long Weekend? Anggarannya 10% dari Pendapatan Saja

Menurut Andi, idealnya alokasi dan darurat adalah sebesar 10% dari penghasilan. Artinya jika penghasilan kita adalah Rp5 juta, maka dana darurat yang disiapkan adalah Rp500 ribu setiap bulan.

Namun lanjut Andi, saat ini situasinya berbeda sehingga dana darurat yang disiapkan juga harus lebih besar. Menurutnya, seharusnya dana darurat yang disiapkan pada saat pandemi adalah 30% dari penghasilan.

 

Artinya jika kamu memiliki penghasilan Rp5 juta, maka Rp1,5 juta merupakan dan darurat yang wajib kamu sisihkan. Alokasi dana darurat ini bisa kamu dapatkan dari anggaran leasur yang semula besaran anggarannya adalah 10% dari penghasilan.

"Idealnya si 10% dari penghasilan kita. Cuma dalam kondisi seperti ini kalau saya menyarankan hal hal yang kenikmatan hidup kita rem dulu kita stop dulu jadi lebih banyak fokusnya di dana darurat aja. Bisa 20-30% penghasilan kita untuk dana darurat dan tabungan dan memang impactnya adalah mengurangi pengeluaran yang bersifat leasur. Jajan , makan di resto, nongkrong di kafe kita stop dulu aja kalau kita merasa tempat saya kerja akan goyang nih. Kaya gitu," jelasnya.

Menurut Andi, dana darurat ini bisa menyatu dengan anggaran tabungan per bulan. Atau kamu juga bisa memisahkan dana darurat dengan uang yang harus kamu masukan ke tabungan.

"Kalau bisa dipisah lebih bagus. Cuma kalau repot alokasinya pembagiannya dijadikan satu saja enggak apa-apa. Karena kan prinsipnya dana darurat itu kan dana yang bisa dicairkan digunakan sewaktu waktu. Kebanyakan dalam bentuk di dalam rekening tabungan kita," jelasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini