Share

Pemerintah Kecewa Shell Hengkang dari Blok Masela

Suparjo Ramalan, iNews · Senin 24 Agustus 2020 18:41 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 24 320 2266736 pemerintah-kecewa-shell-hengkang-dari-blok-masela-C3CPkQOCYt.jpg Proyek Kilang Minyak. (Foto: Okezone.com/Skk Migas)

JAKARTA - Hengkangnya Shell Upstream Overseas Ltd dari proyek Abadi, Blok Masela di Laut Arafuru. Maluku buat pemerintah kecewa. Pemerintah pun layangkan surat kepada Shell.

Kepala Satuan Kerja Khusus Kegiatan Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas) Dwi Soetjipto menceritakan, awalnya beredar rumor jika anak perusahaan Royal Dutch Shell Plc tersebut akan Hengkang dari mega proyek yang tengah digenjot pemerintah.

Kabar itu langsung mendapat respons pemerintah. Di mana, pemerintah mengarahkan SKK Migas untuk melayangkan surat kepada pihak Shell dan memastikan kebenaran rumor tersebut.

"Kami langsung mendapat arahan dari pemerintah untuk kirim surat. Dua kali atau tiga kali kami telah mengirim surat ke Shell, menyampaikan bahwa pemerintah merasa kecewa dengan langkah yang diambil oleh Shell," ujar Dwi dalam RDP dengan Komisi VII DPR, Senin (24/8/2020).

Baca Juga: Bos SKK Migas Beberkan 3 Masalah Besar di Proyek Blok Masela

Pemerintah pun langsung memberikan persetujuan bahwa pihak Shell membuka data Proyek Masela kepada calon perusahaan yang akan mengambil porsi saham partisipasi mereka. Bahkan, Shell sendiri telah menyampaikan perusahaan mana saja yang berpotensi masuk menggantikan mereka di proyek tersebut.

"Perusahaan yang tertarik untuk mengambil alih saham tersebut akan membuat proposal kepada Shell untuk selanjutnya diikutsertakan dalam proses tender. Kami minta secepatnya supaya tidak mengganggu proses project dan lain sebagainya," ujar Dwi.

Sementara itu, pihak SKK Migas berharap agar PT Pertamina (Persero) dapat mengganti posisi Shell sebagai perusahaan migas dalam proyek tersebut. Namun demikian, hingga kini pihak pertamina belum menyampaiakan secara resmi keinginan mereka untuk mengisi posisi perusahaan asal Belanda tersebut.

"Kami juga tidak bisa memaksa Shell untuk harus menjual ke Pertamina kalau Pertamina sendiri tidak menyampaikan keberminatan," kata Dwi.

Baca Juga: Terungkap! Ini Alasan Shell Hengkang dari Blok Masela

Sebelumnya, Vice President Corporate Services Inpex Henry Banjarnahor mengatakan, hengkangnya Shell Upstream Overseas Ltd karena alasan peningkatan portofolio perusahaan. Dia bilang, ada upaya Shell untuk memperluas investasinya di beberapa negara lain yang dinilai lebih menguntungkan secara ekonomi.

"Alasannya sudah disampaikan Bapak Kepala SKK Migas tadi bahwa, mereka meningkatkan seluruh portofolio mereka di seluruh dunia dan menerka-nerka bahwa investasi di negara lain lebih menguntungkan mereka. Jadi mereka mengutamakan itu," ujar Henry

Henry berpendapat, proses divestasi dalam kegiatan usaha hulu migas itu adalah sesuatu hal yang wajar terjadi. Meski demikian, dia menyebut pihaknya tetap menjalankan proyek Blok Masela bersama dengan SKK Migas.

"Inpex sebagai operator memiliki pandangan yang lain. Kita tetap komitmen untuk kegiatan tersebut, yakni kegiatan di Proyek Masela ini dan kita akan melanjutkan kerja sama dengan SKK Migas," ujarnya.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut Bersama Lifebuoy dan MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Konstruksi Proyek Masel

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mencatat konstruksi proyek Abadi Blok Masela, di Maluku baru mencapai 2,2%. Keterlambatan tersebut karena adanya Covid-19.

Dwi menyebut, capaian itu jauh dari yang ditargetkan pihaknya sebelumnya yakni, 10,5% pada Juli tahun ini. Meski begitu, pihaknya berusaha melakukan percepatan dan recovery pada bulan-bulan mendatang.

"Memang terjadi keterlambatan dari target progress-nya mencapai 10,5 persen tapi aktualnya baru 2,2 persen, terlambat sekitar 8,3 persen. Mudah-mudahan ini bisa di-recovery di waktu yang akan datang," Dwi.

Saat ini, lanjut Dwi, pihak Inpex Corporate selaku kontraktor tengah memasang operator Blok Masela tengah pemasangan alat survei di lapangan, serta melakukan kajian gas turbine driver dan liquefaction licensor yang mencapai 80%.

"Inpex juga sudah melakukan penilaian pusat operasi terintegrasi (Integrated Operation Center Assessment) yang telah tuntas 100 persen," ujarnya.

Inpex juga tengah melakukan pengadaan desain teknis akhir Front End Engineering Design (FEED) kilang darat (onshore), fasilitas produksi, penyimpanan dan bongkar muat terapung Floating Production Storage and Offloading (FPSO), pipa gas, dan fasilitas bawah laut atau Subsea Umbilicals, Risers and Flowlines (SURF).

"Untuk pra-kualifikasi dari calon-calon yang akan mengerjakan empat paket tadi itu selesai. Kemudian, dokumen lelang sedang disiapkan," kata Dwi.

Selain itu, pihak operator juga tengah melakukan pengumpulan data Analisis Dampak Lingkungan (Amdal) yang sudah mencapai 60 persen setelah pengajuan kerangka Amdal disetujui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada 25 Februari 2020.

Sementara terkait dengan pengerjaan survei geofisika dan geoteknik untuk mendukung FEED fasilitas produksi dan pipa bawah laut telah diserahkan kepada Fugro. "Namun mobilisasi peralatan dan personil tertunda karena wabah virus Covid-19 yang seharusnya di Maret 2020 sudah mulai bergerak," kata dia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini