Pertamina Rugi Rp11 Triliun, Ahok Dicolek Netizen

Feby Novalius, Jurnalis · Selasa 25 Agustus 2020 11:08 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 25 320 2266996 pertamina-rugi-rp11-triliun-ahok-dicolek-netizen-n02eCD2V3R.jpg Kilang Pertamina. (Foto: Okezone.com/Pertamina)

JAKARTA - Kinerja PT Pertamina (Persero) disoroti masyarakat setelah mengalami kerugian USD761,23 juta atau setara Rp11,1 triliun (kurs USD14.666) pada semester I-2020. Keberadaan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok pun dipertanyakan sebagai Komisaris Utama perseroan.

Kerugian perseroan menjadi tranding topik di Twitter dengan $+#ahokpertaminarugi. Para netizen pun mempertanyakan kerugian tersebut.

Baca Juga: Rugi Rp11 Triliun, Ini Alasan Pertamina

"Ahok: Pertamina merem pasti untung, tapi harus diawasi. Media: Pertamina rugi 11,33 triliun. Kalau dirangkai kedua judul berita ini bakal gini gak? Karena tidak diawasi Ahok, Pertamina rugi 11,33 triliun," tulis Tweet @s*m*nj*nt*k, Selasa (25/8/2020).

Ahok

Tak hanya itu, masyarakat juga mempertanyakan sebab Pertamina rugi. Pasalnya, harga minyak dunia yang sedang turun menjadi peluang perseroan untuk mengambil untung.

Baca Juga: Pertamina Rugi Rp11 Triliun pada Semester I-2020

"Ljo bukanlah seharusnya untung besar ya??? Harga BBM dunia kan turun drastis, sementara harga jual BBM Pertamina gak turun-turun toh???" tulis @MM*rg*n*

Meski demikian ada yang menilai kerugian tersebut bukan karena Ahok. Sebab, kerugian tersebut ada di bawah jajaran direksi perseroan.

"Tanggung jawab operasional di direksi, mereka yang harus sepenuhnya dipersalahkan, gak bijak nyalahin Ahok sebagai komisaris yang hanya fungsi pengawasan sama advisor," tweet @_K*ngP*rw*.

Sebelumnya, perseroan mencatat laba tahunan berjalan sebesar USD746,68 atau setara Rp10,94 triliun. Sementara total penjualan dan pendapatan usaha Pertamina sebesar USD20,4 atau sebesar Rp299,2 triliun atau turun dibandingkan semester I-2019 sebesar USD25,5 miliar.

Penurunan penjualan dan pendapatan terjadi pada penjualan dalam negeri seperti minyak mentah, gas bumi, energi panas bumi dan produk minyak pengganti biaya subsidi dari pemerintah, turun dari USD20,9 miliar (2019) menjadi USD16,5 miliar.

Kemudian imbalan jasa pemasaran USD479 juta (2019) turun jadi USD414 juta pada semester I-2020. (feb)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini