Share

Peluang Industri Waralaba di Tengah Pandemi Covid-19

Aditya Pratama, Jurnalis · Selasa 01 September 2020 14:09 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 01 455 2270824 peluang-industri-waralaba-di-tengah-pandemi-covid-19-MJLf1P4YcL.jpeg Grafik Ekonomi (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Andry Satrio Nugroho menilai industri waralaba masih berpotensi tumbuh di tengah pandemi Covid-19. Pasalnya, seluruh sektor waralaba turut terdampak saat ini.

Andry mengatakan, pada saat masa normal industri waralaba cukup menggiurkan, pertumbuhannya bisa mencapai double digit. Di masa pandemi saat ini terdapat beberapa sektor yang terdampak, sebut saja sektor jasa yang sifatnya pariwisata dan perhotelan.

Baca juga: Pindah ke Online, Cara Pelaku Bisnis Franchise Selamat dari Covid-19

"Namun di sisi lain tidak dipungkiri ada bisnis waralaba yang menguntungkan seperti ritel atau pusat perbelanjaan, makanan dan minuman, sektor kesehatan, sehingga kita bisa melihat sebetulnya masih ada harapan bagi industri waralaba untuk tumbuh di tengah pandemi," ujar Andy dalam acara Market Review IDX Channel, Selasa (1/9/2020).

Untuk industri waralaba dapat bertahan pada situasi saat ini, Andy menyebut diperlukan suatu strategi yang menjadi salah satu faktor dominan untuk pertumbuhan industri waralaba.

Selain itu, kunci dari keberhasilan bisnis waralaba adalah pada daya beli masyarakat. Indonesia bisa dibilang sebagai salah satu market besar di Asia dengan 70 juta penduduk kelas menengah dan 125 juta penduduk calon kelas menengah.

Baca juga: Sukses Jualan di Era Covid-19, Medsos Jadi Ladang Cuan

"Artinya ini jadi peluang besar bagi industri waralaba karena kita bisa melihat adanya invasi dari waralaba asing untuk melihat peluang ini," ucapnya.

Namun, di kondisi saat ini, Andy menyebut penduduk kelas menengah enggan dan cenderung menahan konsumsi karena alasan terdampak Covid-19, sehingga dapat simpulkan bahwa daya tahan waralaba ditentukan daya beli masyarakat. "Jika daya beli itu tertekan maka waralaba juga akan tertekan," kata dia.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini