Apa Benar Harga Rokok di Indonesia Terlalu Murah? Ini Kata Bea Cukai

Muhamad Rizky, Jurnalis · Sabtu 05 September 2020 14:18 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 05 320 2273065 apa-benar-harga-rokok-di-indonesia-terlalu-murah-ini-kata-bea-cukai-KmwphP5AbC.jpg Harga Rokok (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Angka perokok di Indonesia disebut-sebut kian mengalami peningkatan. Hal itu disebabkan lantaran harga rokok yang yerlalu murah sehingga dapat dijangkau masyarakat bahkan anak-anak.

Kasubdit Tarif Cukai dan Harga Dasar Ditjen Bea Cukai Sunaryo membantah bahwa harga rokok di Indonesia terlalu murah. Menurutnya harga rokok sudah tinggi hal itu dibandingkan dengan harga makan.

"Rokok itu Rp20.000, makan sekitar Rp10.000 sampai Rp15.000 masih ada. Sebenarnya kalau mempertimbangkan daya beli, rokok itu tidak terlalu murah," kata Sunaryo saat diskusi dalam 'Polemik Trijaya bertajuk Pandemi, Harga Cukai dan Naiknya Perokok Anak' yang disiarkan secara daring, Sabtu (5/9/2020).

Baca Juga: Harga Rokok Naik, Konsumsi 'Ahli Hisap' Bisa Berkurang? 

Kata Sunaryo, jika dibandingkan dengan harga rokok dan kebutuhan makan di beberapa negara di dunia, harga rokok di Indonesia bisa dikatakan tidak terlalu berbeda atau lebih tinggi dengan harga makan dibanding rokok.

"Sekarang googling aja merk rokok putih yang paling dominan di Jepang 502 yen (harganya) kalau di konversi ke Rupiah Rp66.000 sekian, kalau makan di pinggir restoran Jepang bisa Rp150 ribu-Rp250 ribu," ujarnya.

Sunaryo menerangkan, berdasarkan data Index 2013, Ditjen Bea Cukai Kementerian Keuangan telah menaikkan harga rokok hingga 100% per 2020.

"Kalau 2013-2018, kita menaikkan harga sekitar 70,2% ini kebijakan kita. Jadi sebenarnya cukup tinggi kebijakan kita dan cukup berani," jelasnya.

Sebelumnya, dalam kesemoatan yang sama Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS UI) Renny Nurhasana, mendorong agar harga rokok dinaikkan demi mencegah peningkatan perokok terhadap anak.

Menurutnya rendahnya harga rokok menjadi penyebab utama banyakknya anak-anak yang merokok. "Harga rokok masih murah itu masih terjangkau anak mendorong konsumsi yang naik untuk anak-anak," kata Renny.

Menurut Renny kunci yang bisa dilakukan agar menekan peningkatan perokok anak adalah menaikkan harga rokok. Hal itu pula yang dilakukan berbagai negara di dunia meski kenaikan harga rokok tersebut membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

"Kalau kita lihat pakai data bahwa di berbagai negara lain sudah efektif. Kalau Thailand membutuhkan 10 sampai 20 tahun untuk harga rokok Rp50.000 per bukus, Australia butuh 40 tahun untuk Rp200 ribu harga rokok, ah untuk Indonesia seperti apa tapi negara lain demikian," tandasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini