Impor RI Meningkat di Tengah Covid-19, Emas dari Hong Kong hingga Anggur China

Rina Anggraeni, Jurnalis · Selasa 15 September 2020 16:44 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 15 320 2278179 impor-ri-meningkat-di-tengah-covid-19-emas-dari-hong-kong-hingga-anggur-china-gec5bTf8mG.jpg Harga Emas (Shutterstock)

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor barang konsumsi paling besar di tengah pandemi Covid-19. Adapun impor bahan baku menyumbang 7,31%. Sebagai informasi nilai impor Indonesia Agustus 2020 mencapai USD10,74 miliar, atau naik 2,65% dibandingkan Juli 2020 yang mencapai USD10,47 miliar.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, impor bahan baku yang secara month-to-month juga mengalami kenaikan 5% di Agustus 2020, yakni terjadi pada komoditas emas dari Hong Kong, Soya Bean Flour dari Brasil, besi baja dari Ukraina.

"Lalu alat untuk kebutuhan komunikasi dari China," kata Suhariyanto secara virtual, Selasa (15/9/2020)

Baca Juga: Impor Anjlok 24,19%, Indonesia Masih Tergantung Barang dari China

Dia menjelaskan, impor barang konsumsi dan impor bahan baku untuk Agustus 2020 meningkat month-to-month, akibat kenaikan tingkat impor pada sejumlah komoditas.

"Barang konsumsi month-to-month nya mengalami peningkatan 7,31%, di antaranya adalah anggur dari China, kemudian cream and powder Selandia Baru, roll sugar insolid form dari India," katanya

Sementara untuk impor non-migas bulan Agustus 2020 tercatat mencapai USD9,79 miliar, atau naik 3,01% dibandingkan Juli 2020. Kemudian impor migas Agustus 2020 senilai USD0,95 miliar tercatat turun 0,88%, dibandingkan bulan Juli 2020. Demikian pula jika dibandingkan Agustus 2019 turun 41,75%.

Peningkatan impor non-migas terbesar Agustus 2020 dibandingkan Juli 2020 adalah golongan besi dan baja senilai USD89,2 juta (23,31%), sedangkan penurunan terbesar adalah golongan kapal, perahu, dan struktur terapung senilai USD60,8 juta (40,96%).

 Emas

Tiga negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari-Agustus 2020 adalah Tiongkok senilai USD24,72 miliar (29,90%), Jepang USD7,31 miliar (8,84%), dan Singapura USD5,41 miliar (6,55%).

Impor non-migas dari ASEAN tercatat senilai USD15,61 miliar (18,89%) dan Uni Eropa senilai USD6,61 miliar (7,99 %). Sementara nilai impor seluruh golongan penggunaan barang selama Januari-Agustus 2020 mengalami penurunan, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

"Penurunan terjadi pada golongan barang konsumsi (7,86%), bahan baku/penolong (18,85%), dan barang modal (20,13%)," tandasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini