Pajak 0%, Bisnis Jual Beli Mobil Bekas Bakal Goyang?

Giri Hartomo, Jurnalis · Rabu 30 September 2020 12:36 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 30 455 2286086 pajak-0-bisnis-jual-beli-mobil-bekas-bakal-goyang-0Fvi0RS4UK.jpg Mobil (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Pajak 0% akan membuat harga mobil baru akan lebih murah 50% dari sekarang. Hal ini nantinya akan membuat pengusaha atau pebisnis jual beli mobil second akan terkena imbasnya.

Perencana Keuangan Andi Nugroho mengatakan, para penjual mobil bekas ini akan tergerus dengan murahnya harga mobil baru. Bahkan dirinya menyebut akan sangat sulit bagi para penjual mobil bekas ini untuk melawan murahnya harga baru.

Baca Juga: Pajak Mobil 0% Bisa Selamatkan 1,5 Juta Pekerja Otomotif dari PHK

Sebab menurut Andi, masyarakat akan lebih banyak memilih membeli mobil baru dibandingkan bekas. Karena masyarakat bisa mendapatkan mobil baru dengan harga yang sama murahnya dengan mobil bekas.

Sebagai ilustrasi, untuk harga mobil LGCC baru seperti Agya diperkirakan bisa dibeli dengan harga Rp60 juta saja. Sedangkan harga mobil bekas berada di kisaran Rp60 jutaan juga.

Baca Juga: Pajak 0% Turunkan Harga Mobil, Gaikindo: Tergantung

"Para pedagang ini tidak punya senjata buat melawan sih. Karena bagaimanapun akan kalah kalau mengikuti harga pasar pastinya pasar akan meminta eh saya dengan harga Rp60 juta sudah dapat mobil baru. Kenapa saya harus beli yang second," ujarnya saat dihubungi Okezone, Rabu (30/9/2020).

Oleh karena itu, hati-hati jika ingin membuka usaha jual beli mobil second. Apalagi ketika peraturan pajak mobil 0% ini sudah diputuskan oleh pemerintah.

"Kalau peraturan ini dijalankan, pastinya akan memukul para pedagang kendaraan mobil bekas," ucapnya.

 

Sebenarnya lanjut Andi, kebijakan pajak 0% pada mobil baru ini menjadi dilematis. Karena di sisi lain untuk menarik minat masyarakat untuk mendorong konsumsi, di lain pihak para pengusaha jual beli mobil second terkena imbasnya.

"Ini memang akan menjadi dilematis. Mungkin pemerintah mendorongnya agar masyarakat melakukan konsumsi. Dan menolong juga industri otomotif, jadinya pajak kendaraan bermotor dikurangi," jelasnya.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini