Debat Capres AS Memanas, Investor Menanti Stimulus Rp32.560 Triliun

Feby Novalius, Jurnalis · Kamis 01 Oktober 2020 11:53 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 01 320 2286653 debat-capres-as-memanas-investor-menanti-stimulus-rp32-560-triliun-pT7AKMRnDp.jpg Investor (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Debat resmi kandidat presiden AS Donald Trump versus Joe Biden berlangsung kacau. Mereka beradu argumen dengan sengit, dan membicarakan kredibilitas Trump dalam menangani pandemi virus Corona, perawatan kesehatan, dan perekonomian.

Dalam debat pertama ini, khalayak menilai bahwa penampilan Trump sebagai presiden petahana, sangat buruk. Dia kerap interupsi pembicaraan berulang-ulang. Biden sebetulnya juga tak bisa dibilang baik karena melontarkan penghinaan pribadi Trump.

Mereka memperdebatkan beragam isu penting seperti pandemi Covid-19 dan perpajakan tanpa arah yang jelas. Investor tak mampu memutuskan mana yang layak menjadi pemenang dari debat kali ini. Kekhawatiran pasar akan ketidakpastian hasil pemilu presiden November mendatang pun kembali bangkit.

"Investor lekas mengalihkan perhatian ke upaya kubu Demokrat di Parlemen AS untuk mengesahkan proposal stimulus fiskal tambahan sebesar USD2,2 triliun," demikian seperti dikutip laporan Treasury MNC Bank, Jakarta, Kamis (1/10/2020).

Baca Juga: IHSG Tancap Gas, Naik Nyaris 1% ke 4.916 

Pemimpin DPR Nancy Pelosi mengatakan pada hari Selasa bahwa sebuah kesepakatan dengan Gedung Putih kemungkinan akan tercapai dalam pekan ini. Meski demikian, sejumlah analis menilai proposal itu tidak mungkin disahkan sebagaimana adanya saat ini.

Data ekonomi AS yang dirilis malam kemarin Final GDP AS dalam basis kuartalan dilaporkan sedikit lebih tinggi daripada ekspektasi, yakni -31.4 . Sedangkan ADP Non Farm Employment Change naik ke 749.000 pekerjaan di bulan September. Data tersebut lebih tinggi daripada ekspektasi dan data sebelumnya, masing-masing 650.000 dan 481.000.

Terlepas dari faktor eksternal, bila ditinjau dari dalam negeri, Rupiah juga masih belum menunjukkan pergerakan yang siginifikan.

Daya beli masyarakat diperkirakan menurun tajam seiring penerapan pembatasan sosial berskala besar di beberapa wilayah. Potensi pelemahan konsumsi dari kebijakan tersebut dikhawatirkan dapat mengancam prospek pertumbuhan perekonomian, sehingga upaya pemerintah dalam menjaga tingkat konsumsi akan menjadi perhatian para pelaku pasar.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di akhir sesi pertama perdagangan saham Rabu kemarin ditutup melemah 28,53 poin atau 0,585% di level 4850,57.

Bank Indonesia (BI) dan Kementerian Perdagangan RI (Kemendag) berkomitmen mempererat sinergi untuk memperkuat pasar dalam negeri dan meningkatkan daya saing sektor perdagangan luar negeri.

 IHSG Ditutup Menguat Tipis

Mendag Agus menyampaikan, kerja sama dengan BI merupakan upaya pemerintah menjaga stabilitas pasar dalam negeri dan meningkatkan ekspor untuk membantu pemulihan ekonomi di masa pandemi COVID-19.

Gubernur People’s Bank of Cina Yi Gang dan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyepakati pembentukan kerangka kerja sama untuk mendorong penggunaan mata uang lokal dalam penyelesaian transaksi perdagangan bilateral dan investasi langsung (Local Currency Settlement).

Kesepakatan tersebut dituangkan melalui penandatangan Nota Kesepahaman pada Rabu (30/9/2020), kata Departemen Komunikasi BI dalam siaran pers.

Hal tersebut akan memperluas kerangka kerja sama LCS yang telah ada antara BI dengan Bank of Thailand, Bank Negara Malaysia, dan Kementerian Keuangan Jepang.

Dijelaskan, PBC dan BI sepakat untuk mendorong penggunaan mata uang lokal dalam penyelesaian transaksi perdagangan dan investasi langsung.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini