7 Fakta Buruh Mogok Nasional karena Tolak RUU Ciptaker, Nomor 5 Hati-Hati

Fadel Prayoga, Jurnalis · Minggu 04 Oktober 2020 12:18 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 03 320 2287890 7-fakta-buruh-mogok-nasional-karena-tolak-ruu-ciptaker-nomor-5-hati-hati-fFHpmE6ImL.jpg Buruh Demo (Foto: Okezone)

JAKARTA - Puluhan pimpinan konfederasi dan federasi serikat pekerja menyepakati untuk melakukan mogok nasional sebagai bentuk penolakan terhadap Omnibus Law RUU Cipta Kerja. Rencananya aksi itu akan dilaksanakan pada 6 Oktober hingga 8 Oktober 2020.

Terkait hal itu Okezone sudah merangkum beberapa fakta tentang aksi mogok nasional tersebut, Jakarta, Minggu (4/10/2020).

1. Aksi Akan Dilakukan Secara Tertib dan Konstitusional

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal memastikan kegiatan itu akan dilakukan secara konstitusional dengan tertib dan damai. Rencanya, dimulai pada 6 Oktober 2020 dan diakhiri pada saat sidang Paripurna yang membahas RUU Cipta Kerja pada 8 Oktober 2020.

Baca Juga: Tolak Omnibus Law, 5 Juta Buruh Bakal Mogok Nasional 6-8 Oktober 

2. Akan Diikuti 5 Juta Buruh

Dia mengklaim, aksi ini akan diikuti kurang lebih 5 juta buruh di ribuan perusahaan di 25 provinsi dan 300 kabupaten/kota. Dengan melibatkan beberapa sektor industri seperti kimia, energi, pertambangan, tekstil, garmen, sepatu, otomotif dan komponen, elektronik dan komponen, industri besi dan baja, farmasi dan kesehatan, percetakan dan penerbitan, industri pariwisata, industri semen, telekomunikasi, pekerja transportasi, pekerja pelabuhan, logistik, perbankan, dan lain-lain.

3. Alasan Mogok Nasional

 

Dia menyebut, mogok nasional ini dilakukan sebagai bentuk protes buruh Indonesia terhadap pembahasan RUU Cipta Kerja yang dinilai lebih menguntungkan pengusaha. Misalnya dibebaskannya penggunaan buruh kontrak dan outsourcing di semua jenis pekerjaan dan tanpa batasan waktu, dihilangkannya UMSK, hingga pengurangan nilai pesangon.

“Sejak awal kami meminta agar pelindungan minimal kaum buruh yang ada di Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan jangan dikurangi. Tetapi faktanya omnibus law mengurangi hak-hak buruh yang ada di dalam undang-undang eksisting,” ujarnya.

 

4. Mahasiswa, Petani, dan Nelayan Akan Ikut Aksi

Lebih lanjut dia menyampaikan, bahwa pihaknya akan mengajak elemen-elemen lain untuk bergabung dalam pemogokan umum ini. Faktanya mayoritas buruh Indonesia menolak omnibus law. Karena itu, pihaknya optimis seruan mogok nasional ini akan diikuti oleh hampir semua serikat pekerja di Indonesia. Bahkan tidak menutup kemungkinan buruh yang tidak berserikat pun akan ikut melakukan pemogokan.

“Selain dari buruh, berbagai elemen juga siap untuk melakukan aksi bersama untuk menolak omnibus law RUU Cipta Kerja adalah mahasiswa, petani, nelayan, masyarakat sipil, masyarakat adat, penggiat lingkungan hidup, penggiat HAM, dan lain-lain,” pungkasnya.

5. Operasional Perusahaan Akan Terhenti

Said menyebut dalam aksi nanti buruh akan meninggalkan tempat kerja dan otomomatis operasional perusahaan akan terhenti.

“Dalam mogok nasional nanti, kami akan menghentikan proses produksi. Di mana para buruh akan keluar dari lokasi produksi dan berkumpul di lokasi yang ditentukan masing-masing serikat pekerja di tingkat perusahaan,” kata Said.

6. Tak Semua Elemen Buruh Setuju dengan Aksi Mogok Nasional

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Nasional (KSPN) Ristadi meminta kepada seluruh buruh untuk tetapn tenang dalam menunggu pengesahan RUU Ciptaker. Dia mengimbau kepada seluruh anggota KSPN untuk tak ikut terprovokasi terkait rencana aksi mogok nasional dari beberapa elemen buruh sebagai bentuk penolakan terhadap RUU tersebut.

“Mempertimbangkan beberapa hal tersebut, Konfederasi Serikat Pekerja Nasional tidak akan ikut aksi mogok nasional tanggal 6-8 Oktober 2020. Kepada seluruh anggota KSPN agar tetap tenang dan waspada dengan situasi yang berkembang,” ujarnya.

7. Pengusaha Minta Buruh Tetap Fokus Bekerja

Wakil Ketua Umum Apindo Shinta Widjaja mengimbau para pekerja untuk tetap fokus bekerja agar kinerja keuangan perusahaan terus membaik. Terlebih, kini sedang ada pandemi Covid-19, yang mana sebaiknya menghindari tempat keramaian agar tak terjadi penyebaran wabah tersebur.

"Khususnya terkait mogok kerja , dan ketentuan tentang penanggulangan Covid-19 yang saat ini sama-sama kita hadapi sehingga pekerja harus tetap bekerja," kata Shinta ssat dihubungi, Kamis (1/10/2020).

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini