Artim mengisahkan dahulu selepas ditinggal kedua orang tuanya, dari SMA hingga menjadi mahasiswa, pernah menjadi pemuda nakal. Untuk menopang hidup sehari-hari, Artim bekerja serabutan, mulai dari ngamen hingga menjadi preman pun pernah dijalani selama 5 tahun.
Suatu hari, dirinya terpikir untuk mengubah nasib. Hanya berdasarkan kepercayaan salah seorang teman pada tahun 2019, dia pun mendapat modal untuk membuka tempat nongkrong berupa warung mie dan bubur kacang ijo di sekitar kampus IAIN Ngaliyan, Semarang.
Tidak butuh waktu yang lama, Artim pun sudah bisa menabung dan membuka cabang warung baru dengan konsep ala mahasiswa dan tentu menu makanan yang serba murah.
Artim mengaku, selama 2 bulan ini, justru warungnya mengalami perkembangan yang cukup pesat, dengan omzet Rp60 juta per bulan. Kini, selain hidup berkecukupan dan menjadi jutawan muda, mantan preman ini pun bisa membiayai kuliah adiknya di Undip Semarang.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)