Share

Rupiah Diprediksi Menguat Selama BI Tetap Turun ke Market

Taufik Fajar, Jurnalis · Senin 05 Oktober 2020 10:56 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 05 320 2288483 rupiah-diprediksi-menguat-selama-bi-tetap-turun-ke-market-P4lfEtwe91.jpg Rupiah (Shutterstock)

JAKARTA - Nilai tukar Rupiah akan mengalami tekanan pada perdagangan hari ini. Rupiah hari ini diprediksi bergerak di kisaran Rp14.800-Rp15.100 per USD.

Dalam riset analis MNC Bank, Jakarta, Senin (5/10/2020), setelah mencatatkan kinerja baik pada sepekan lalu, rupiah diproyeksikan melemah pada hari ini.

 Baca juga: Rupiah Menguat tapi Masih di Rp14.800/USD

Pada Jumat 2 Oktober 2020, Rupiah di pasar spot melemah 0,2% ke Rp14.865 per USD. Namun, jika dalam sepekan, rupiah masih tercatat menguat tipis 0,05%.

Sementara di kurs tengah Bank Indonesia (BI), rupiah justru mengakhiri pekan lalu dengan pelemahan tipis 0,09% menjadi Rp14.890 per USD, Dalam sepekan, rupiah menguat 0,41%.

 Baca juga: Rupiah Pagi Ini Parkir di Level Rp14.845/USD

Menurut riset tersebut, Dari dalam negeri pelaku pasar mencermati RUU Cipta Kerja yang akan disahkan pada rapat paripurna 8 oktober 2020. "Penolakan dan mogok kerja yang disuarakan oleh buruh dikhawatirkan berdampak pada produktivitas industri manufaktur pada kuartal IV-2020," kutip riset tersebut.

Namun peluang rupiah untuk menguat pun sebenarnya masih ada. Selain BI tetap ada di market untuk menjaga stabilitas rupiah, diharapkan investor juga kembali masuk ke asset beresiko jika sentimen negatif terhadap rupiah sudah mereda.

Selain itu, diperkirakan aliran dana ke safe haven akan kembali berlanjut. Pasar cenderung beralih ke safe haven imbas dari kondisi pasar yang masih penuh ketidakpastian.

Mulai dari penyebaran Covid-19 yang masih terus berlanjut, stimulus fiskal di Amerika Serikat yang masih tarik-ulur, hingga teranyar Presiden AS Donald Trump dinyatakan positif Covid-19.Semua sentimen tersebut mendukung permintaan safe haven dan masih akan mewarnai perdagangan hari ini. Belum lagi, jika melihat data ketenagakerjaan AS yang masih menunjukkan adanya sinyal pelambatan.

"Selain itu, kondisi eksternal yang paling berdampak pada pergerakan nilai tukar rupiah karena adanya instabilitas geopolitik dan perang Azerbaijan-Armenia," kutip riset tersebut.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini