Indonesia Dorong Pengembangan dan Pembiayaan Infrastruktur di ASEAN

Michelle Natalia, Jurnalis · Senin 05 Oktober 2020 14:29 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 05 320 2288627 indonesia-dorong-pengembangan-dan-pembiayaan-infrastruktur-di-asean-NHf24Tc7g7.jpg Proyek Infrastruktur. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Para Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral ASEAN melakukan pertemuan dalam acara ASEAN Finance Ministers and Central Bank Governors’ Meeting (AFMGM). Pertemuan membahas penguatan kerjasama ekonomi dan keuangan, dengan penekanan diskusi pada agenda membangun ketahanan dan mendorong pemulihan ekonomi kawasan yang terdampak pandemi.

Beberapa inisiatif kerjasama, khususnya dalam kapasitas Indonesia sebagai chair Kelompok Kerja Pengembangan Pasar Modal, dengan prioritas kerjasama utama meliputi pembiayaan infrastruktur dan pembiayaan berkelanjutan.

Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Suahasil Nazara mengatakan, Indonesia mendorong pengembangan inisiatif kawasan untuk pembangunan infrastruktur, termasuk di antaranya untuk mendukung transformasi ke era teknologi digital.

Baca Juga: Daftar 4 Proyek Infrastruktur Bermotif Batik

“Prioritas Indonesia dalam mendorong pembangunan infrastruktur bukan hanya untuk memfasilitasi aktivitas ekonomi selama pandemi, namun juga untuk mengantisipasi pergeseran modalitas proses belajar mengajar melalui platform digital”, ungkap Wakil Menteri Keuangan, Suahasil Nazara di Jakarta, Senin (5/10/2020)

Dalam kesempatan tersebut, Wamenkeu juga menyampaikan bahwa Indonesia berkomitmen untuk melanjutkan proses keanggotaan di Financial Action Task Force (FATF) yang sempat tertunda akibat pandemi.

Baca Juga: Mengenal Batik Kawung yang Ada di Uang Rp75.000

Selain itu, juga mengapresiasi dan mendukung perkembangan yang telah dicapai oleh ASEAN Infrastructure Fund (AIF) dengan inisiatif Fasilitas Pembiayaan Hijau Katalitik ASEAN (ASEAN Catalytic Green Finance Facility/ACGF) yang merupakan terobosan penting untuk memfasilitasi keterlibatan swasta pada pembiayaan infrastruktur hijau di kawasan.

"Fasilitas ACGF, yang diresmikan oleh Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral ASEAN di bulan April 2019, kini telah mendapatkan komitmen pendanaan dari mitra pembangunan sebesar USD1,5 milyar dan dalam waktu dekat akan memulai penyaluran pembiayaan bagi beberapa proyek strategis di beberapa negara, termasuk Indonesia," katanya

AIF sendiri dibentuk oleh ASEAN sejak tahun 2011 bekerjasama dengan Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank). Indonesia saat ini memegang peran sebagai Ketua Dewan Direktur AIF dan merupakan penerima manfaat terbesar dari AIF, dengan lebih dari 70% pembiayaan AIF disalurkan pada proyek infrastruktur di Indonesia.

Selain mendorong inisiatif pembangunan infrastruktur, Indonesia juga mendorong inisiatif pembiayaan yang berkelanjutan di ASEAN. Indonesia memandang inisiatif tersebut sebagai salah satu mesin pendorong pemulihan ekonomi di kawasan.

Potensi pengembangan pembiayaan berkelanjutan bagi negara ASEAN terbuka sangat lebar, terutama dilihat dari pertumbuhan pasar obligasi berkelanjutan dunia yang sangat pesat. Indonesia sendiri merupakan salah satu negara terdepan dalam pengembangan pembiayaan berkelanjutan.

Indonesia menjadi negara pertama di dunia yang menerbitkan obligasi syariah hijau pemerintah di tahun 2018, serta telah mampu menerbitkan obligasi hijau dan berkelanjutan baik oleh Pemerintah maupun korporasi dengan nilai total USD3,4 miliar.

Untuk mengakselerasi pencapaian tujuan tersebut, Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral ASEAN menyepakati untuk mengesahkan dokumen Laporan Pengembangan Pembiayaan Berkelanjutan di ASEAN. Dokumen ini akan menjadi dokumen rujukan arah kerjasama penguatan kebijakan, pemastian sinergi dan koordinasi, peningkatan kesadaran dan kapasitas, serta pembangunan penawaran dan permintaan pembiayaan berkelanjutan di kawasan.

Untuk menekankan efektivitas kerjasama, Indonesia juga mendorong penguatan sinergi kerjasama pembiayaan pembangunan di kawasan, yang memperoleh dukungan negara lainnya dan dijadikan salah satu elemen kesepakatan dalam Pernyataan Bersama (Joint Statement) pertemuan. Dalam pernyataan tersebut, disepakati komitmen penyelarasan agenda pembiayaan berkelanjutan seluruh kelompok kerja di jalur Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral ASEAN.

Di samping aspek kerjasama di atas, Indonesia dan negara ASEAN lainnya juga menyepakati upaya penyelarasan koordinasi kebijakan ekonomi yang dapat mendorong pemulihan ekonomi yang kuat, inklusif, dan berkelanjutan, dengan tetap mempertahankan kualitas dan stabilitas fiskal dan moneter. Selain itu, disepakati pula penguatan kerjasama dalam mendorong transformasi digital yang diharapkan tidak hanya dapat memfasilitasi aktivitas ekonomi di tengah pandemi, tapi juga dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas, serta inklusivitas pembangunan ekonomi ASEAN ke depannya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini