JAKARTA - Pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo akan memicu gelombang dampak turunan bagi perekonomian nasional. Kabar mengejutkan dari otoritas moneter tersebut berdampak langsung terhadap kenaikan biaya hidup rumah tangga, laju inflasi, tekanan terhadap bisnis UMKM, hingga beban anggaran utang pemerintah.
Adapun pasar keuangan merespons pengunduran diri tersebut bukan sekadar sebagai urusan administratif. Pada hari pengunduran diri Perry, data Bank Indonesia mencatat Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp17.995 per dolar AS, yang menjadi sinyal bahwa pasar sedang menghitung ulang risiko kebijakan di Indonesia.
"Ketika kepercayaan terhadap Bank Indonesia terguncang, dampaknya ialah kenaikan biaya yang akan merangkak naik sampai ke meja makan rumah tangga, cicilan kredit, modal kerja UMKM, harga obat, biaya produksi pabrik, dan bunga utang pemerintah," kata Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta Achmad Nur Hidayat, Selasa (28/7/2026).
Achmad menyoroti pelemahan rupiah yang berdampak sistemik karena struktur impor Indonesia didominasi oleh bahan baku, bahan penolong, dan barang modal industri. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor bahan baku dan penolong pada Mei 2026 melonjak 25,17 persen secara tahunan (year on year/yoy), dengan akumulasi nilai mencapai US$43,17 miliar pada periode Januari hingga Maret 2026.
Kondisi ini, kata Achmad, memicu kenaikan biaya produksi di berbagai sektor industri seperti makanan, farmasi, elektronik, otomotif, hingga tekstil. Di tingkat konsumen, BPS mencatat inflasi nasional Juni 2026 sudah menyentuh 3,34 persen (yoy), mendekati batas atas sasaran pemerintah sebesar 2,5 persen plus minus satu persen.