Ada Mobil Listrik, Begini Hitung-hitungan Konsumsi Baterai Dunia

Suparjo Ramalan, Jurnalis · Kamis 15 Oktober 2020 17:11 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 15 320 2294218 ada-mobil-listrik-begini-hitung-hitungan-konsumsi-baterai-dunia-dC3RFLqZGJ.jpg Mobil Listrik (Foto: Okezone)

JAKARTA - Holding BUMN pertambangan Mind Id atau Inalum mencatat demand terhadap baterai Lithium Ion (Li-ion) di dunia akan terus tumbuh per tahunnya. Mind Id memperkirakan hingga 2027 permintaan baterai akan mencapai 22%.

Direktur Utama Inalum Orias Petrus Moedak mengatakan, peningkatan permintaan terhadap baterai seiring dengan meningkatnya kebutuhan kendaraan listrik dan penyimpanan energi. Bahkan, pada 2027 diperkirakan permintaan batrei Li-ion akan mencapai 800 GWh.

“Di dunia itu demand hampir 800 GWh, pertumbuhannya cukup pesat, kurang lebih naik 22% sejak 2020 hingga 2027 nanti. Ekspektasi kita bahwa demand industri sangat akan besar untuk kendaraan listrik listrik,” ujar Orias dalam konferensi pers secara virtual, Jakarta, Kamis (15/10/2020).

Baca Juga: Erick Thohir: China dan Korea Incar Kendaraan Listrik Indonesia 

Untuk permintaan dalam negeri, pihak Mind Id akan merencanakan menyediakan baterai dengan kapasitas 10 GWh. Angka ini diproyeksi akan terus meningkat hingga di tahun 2035. Karena itu, perseroan plat merah juga memperkirakan menyediakan baterai dengan kapasitas yang mencapai mencapai 29 GWh.

Perkiraan penyediaan kapasitas baterai itu didasari atas asumsi bahwa penggunaan kendaraan berbasis listrik tidak saja digunakan oleh kendaraan roda empat dan kendaraan listrik roda dua, namun juga untuk kebutuhan rumah tangga lainnya.

“Dan saya birbicara dengan teman-teman DPR, sebenarnya untuk daerah wisata seperti Labuhan Bajo, kan banyak sekali perahu-perahu, itukan bisa juga memakai baterai karena kalau kita pakai solar kepada itu (perahu) akhirnya akan mencemari lingkungan,” kata dia.

Pemerintah memang mendorong penggunaan kendaraan berbasis listrik untuk menekan konsumsi bahan bakar dari energi fosil, yang dinilai tidak ramah lingkungan. Untuk memenuhi kebutuhan baterai kendaraan listrik tersebut, sejumlah BUMN pun beramai-ramai membuat pabrik baterai. Di mana, pembangunan pabrik baterai akan dipimpin oleh Mind Id, anggota holding yakni PT Aneka Tambang Tbk, serta bersama PT Pertamina (Persero) dan PT PLN (Persero).

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mencatat, hilirisasi industri minerba, terutama nikel mendapat respons positif dari investasi luar negeri. Investor tersebut adalah Contemporary Amperex Technology Co. Ltd (CATL) dari Cina dan LG Chem Ltd asal Korea.

Dua produsen electric vehicle (EV) Battery untuk kendaraan listrik terbesar dunia itu mengisyaratkan akan bergabung dengan proyek investasi senilai USD20 miliar dalam pengembangan rantai pasokan nikel di Tanah Air.

Menurut dia, kehadiran investasi luar negeri menunjang program industri nasional. Erick mengaku yakin, aspek keberlanjutan terus berkembang dan mendukung ketahanan energi Indonesia.

"Indonesia selama ini dikenal sebagai produsen dan eksportir nikel, bahan baku utama EV Battery, terbesar dunia yang menguasai 27% kebutuhan pasar global," ujar Erick

Respons positif investor asing itu, kata dia, menjadi bukti bahwa kebijakan Indonesia sudah tepat. Dengan kehadiran investasi luar negeri untuk menunjang program nasional di industri ini, maka pemerintah yakin aspek keberlanjutan akan terus berkembang dan Indonesia semakin kuat dalam daya saing untuk mendukung ketahanan energi bagi Indonesia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini