Proyeksi Suramnya Ekonomi Timur Tengah dan Anjloknya Harga Minyak

Taufik Fajar, Jurnalis · Rabu 21 Oktober 2020 06:00 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 20 320 2296752 proyeksi-suramnya-ekonomi-timur-tengah-dan-anjloknya-harga-minyak-jSvzCRK165.jpg IMF Prediksi Harga Minyak 2021 Sebesar USD50/Barel. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Dana Moneter Internasional menurunkan prospek pemulihan ekonomi di Timur Tengah dan Asia Tengah. Diperkirakan kontraksi 4,1% menjadi minus 1,3 atau persentase lebih buruk dari penilaian sebelumnya di April 2020.

Direktur Departemen IMF untuk Timur Tengah dan Asia Tengah Jihad Azour mencatat, disparitas besar dalam kerugian ekonomi antara negara pengimpor dan pengekspor minyak karena kawasan itu dilanda pandemi virus korona dan anjloknya harga minyak.

Baca Juga: Ramalan Terbaru IMF, Ekonomi Dunia Minus 4,4%

"Jika digabungkan, kedua guncangan itu menyebabkan penurunan tajam dalam aktivitas ekonomi yang berbeda antara negara pengekspor minyak dan pengimpor minyak. Rata-rata, kami akan melihat pertumbuhan menjadi negatif 6,6% untuk negara pengekspor minyak, dan pertumbuhan negatif 1% untuk semua negara pengimpor," kata Azour seperti dilansir dari CNBC, Rabu (21/10/2020).

Dia menambahkan bahwa akan ada perbedaan antara negara-negara dalam setiap kelompok. Lalu harga minyak akan menjadi faktor terpenting untuk pemulihan eksportir minyak, terutama negara-negara seperti Arab Saudi, Irak, Iran, UEA, Bahrain dan Kuwait, yang komoditasnya menjadi mayoritas pendapatan.

Baca Juga: Pesan Tegas Sri Mulyani ke Pegawai Bea Cukai

Sementara harga telah pulih dari kejatuhan bersejarahnya pada Maret, patokan internasional minyak mentah Brent masih diperdagangkan hampir 40% di bawah level pra-pandemi. Brent dijual USD42,87 per barel pada Senin waktu setempat.

Harga minyak akan tetap di bawah tekanan

IMF tidak melihat harga minyak melakukan pemulihan dramatis dalam waktu dekat, sehingga diperkirakan harga dalam kisaran USD40 hingga USD50 pada 2021. Itu masih setengah dari angka USD80 per barel yang dibutuhkan OPEC dalam menyeimbangkan anggarannya.

"Proyeksi harga minyak berada di koridor antara USD40 sampai USD45 untuk awal tahun depan, dan akan berada antara USD40 sampai USD50 tahun depan secara keseluruhan. Saya pikir apa yang penting untuk diperhatikan adalah pemulihan permintaan. Itu terbukti menjadi faktor penting dalam apa yang kami lihat tahun ini, selain pasokan yang bisa berasal dari energi alternatif," jelas dia.

Prospek permintaan minyak tetap suram di tengah gelombang baru virus corona yang mencengkeram wilayah dunia dan ketidakpastian tentang stimulus fiskal AS dan pemilihan presiden AS. Badan Energi Internasional pada September memangkas prospek permintaan minyak dunia menjadi 91,7 juta barel per hari tahun ini, kontraksi harian 8,4 juta barel tahun-ke-tahun dan lebih dari kontraksi 8,1 juta yang diperkirakan dalam laporan agensi pada Agustus.

OPEC membukukan prospek yang lebih buruk untuk tahun ini, memangkas pandangannya untuk permintaan minyak global bulan lalu menjadi rata-rata 90,2 juta barel per hari pada 2020, kontraksi 9,5 juta barel per hari tahun ke tahun. Kelompok yang terdiri dari 13 negara penghasil minyak menggambarkan prospek permintaan komoditas sebagai "anemia" dan memperingatkan bahwa risiko tetap meningkat dan condong ke sisi negatifnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini