Neraca Dagang RI Surplus 7 Kali pada 2020, Ini Kata Mendag

Giri Hartomo, Jurnalis · Rabu 21 Oktober 2020 16:46 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 21 320 2297313 neraca-dagang-ri-surplus-7-kali-pada-2020-ini-kata-mendag-ejfsK1SMpT.jpg Neraca Dagang Surplus Jadi Sinyal Positif untuk Pemulihan Ekonomi. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Menteri Perdagangan Agus Suparmanto menilai suplusnya neraca perdagangan Indonesia pada September 2020 sebesar USD2,44 miliar menjadi sinyal positif kinerja perdagangan di tengah pemulihan perekonomian Nasional.

“Surplus September 2020 mencapai USD2,44 miliar. Surplus ini merupakan surplus bulanan ketujuh kalinya sepanjang 2020 dan melanjutkan tren surplus lima bulan berturut-turut sejak Mei 2020,” ujar Agus, dalam keterangannya, Rabu (21/10/2020).

Baca Juga: Neraca Dagang Surplus 5 Kali Berturut-turut, Baca 3 Faktanya

Peningkatan surplus perdagangan disebabkan surplus nonmigas menjadi USD 2,91 miliar. Komoditas penyumbang surplus pada bulan September 2020 tersebut antara lain lemak dan minyak hewan/nabati (HS 15), bahan bakar mineral (HS 27), serta besi dan baja (HS 72). Sementara itu, negara-negara mitra dagang utama Indonesia seperti Amerika Serikat (AS), India, dan Filipina menyumbang surplus nonmigas terbesar selama September 2020 yang jumlahnya mencapai USD2,13 miliar.

Secara kumulatif, neraca perdagangan Indonesia pada Januari–September 2020 tercatat surplus USD13,51 miliar. Surplus tersebut bahkan telah melampaui surplus neraca perdagangan tahun 2017 yang mencapai USD11,84 miliar, yang merupakan nilai surplus tertinggi dalam lima tahun terakhir (2015–2019).

Ekspor September 2020 Menguat Pada September 2020,

Nilai ekspor Indonesia mencapai USD14,0 miliar, tercatat sedikit di atas rata-rata nilai ekspor awal 2020 (Januari–Maret) sebesar USD13,9 miliar per bulan. Peningkatan kinerja ekspor Indonesia pada September 2020 sebesar 7% dibandingkan bulan sebelumnya (MoM) ini didorong adanya kenaikan ekspor migas (17,4% MoM) maupun nonmigas (6,5% MoM).

Baca Juga: Neraca Dagang Indonesia Surplus USD2,3 Miliar di Agustus 2020

“Ekspor Indonesia menunjukkan tren penguatan setelah mengalami kontraksi terdalam pada Mei 2020 akibat dampak negatif pandemi Covid-19,” jelas Agus.

Mendag Agus juga menjelaskan, sektor pertanian dan industri berkontribusi terhadap surplus September 2020. “Peningkatan ekspor nonmigas bulan September 2020 disebabkan oleh melonjaknya ekspor sektor pertanian dan industri, masing-masing sebesar 20,8% dan 7,4% MoM,” ujarnya.

Produk ekspor pertanian yang meningkat pesat pada September 2020 dibandingkan Agustus 2020 adalah sayuran (naik 80,3%), buah-buahan (naik 13,8%), serta kopi, teh dan rempah-rempah (naik 25,8%%). Sementara itu, produk utama sektor industri yang meningkat pesat di antaranya besi dan baja (naik 32,5%), kendaraan dan bagiannya (naik 28,3%), serta lemak dan minyak hewan atau nabati (naik 13,1%).

Impor Bahan Baku dan Penolong pada September 2020 Meningkat

Sementara itu, impor bulan September 2020 tercatat sebesar USD11,6 miliar atau naik 7,7% dibandingkan Agustus 2020.

“Peningkatan impor diakibatkan oleh kenaikan impor bahan baku/penolong dan barang modal. Peningkatan kedua kategori barang ini merupakan indikasi bahwa industri dalam negeri kembali bergeliat dan diharapkan mendukung kinerja eskpor pada bulan selanjutnya,” jelas Agus.

Bahan baku atau penolong yang mengalami peningkatan antara lain biji gandum, gula mentah, dan besi atau baja paduan mengandum kromium. Peningkatan impor biji gandum dan gula seiring dengan industri makanan dan minuman yang masih tumbuh selama tahun 2020.

Sementara itu, barang modal yang mengalami peningkatan adalah tanur atau oven listrik industri, kapal, dan tanker. Selain industri manufaktur yang diperkirakan kembali pulih, sektor transportasi laut juga diperkirakan mengalami peningkatan.

Secara kumulatif, nilai impor Januari–September 2020 mencapai USD103,7 miliar yang didominasi impor nonmigas sebesar USD93,1 miliar atau dengan pangsa sebesar 89,8%. Impor nonmigas periode Januari– September 2020 turun 16,0% YoY, sedangkan volume impornya turun 5,5% YoY. Hal ini mengindikasikan bahwa sebenarnya aktivitas perekonomian domestik yang mengandalkan pasokan dari impor tidak terkontraksi terlalu dalam.

“Perkembangan kinerja ekspor maupun impor Indonesia pada Juli–September 2020 yang cenderung menguat merupakan indikasi kuat bahwa perekonomian Indonesia akan segera kembali pulih dan titik kritis dampak negatif pandemi Covid-19 telah berlalu. Selain itu, sektor perdagangan luar negeri akan menjadi salah satu penopang membaiknya perekonomian Indonesia pada triwulan III 2020,” pungkas Agus.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini