Menilik Peluang BUMN Go Global

Suparjo Ramalan, Jurnalis · Senin 26 Oktober 2020 11:57 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 26 320 2299559 menilik-peluang-bumn-go-global-64rXnSxZcD.jpg Kementerian BUMN (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Pengamat Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dari Universitas Indonesia (UI) Toto Pranoto mencatat, ada sejumlah perseroan pelat merah yang berpotensi menjadi perusahaan kelas dunia. Catatan itu tentu sesuai dengan visi Menteri BUMN, Erick Thohir.

Dari sisi sektoral, BUMN yang berpeluang menapaki sayap bisnis di kancah dunia di antaranya, sektor pertambangan, telekomunikasi, konstruksi, migas, banking, industri Kereta Api, semen, hingga sektor farmasi.

Baca Juga: 6 Jejeran Srikandi di Kursi Direksi BUMN

"Beberapa BUMN Indonesia yang potensial going global adalah sektor seperti telekomunikasi, banking, konstruksi, migas, mining, termasuk sektor industri seperti PT INKA dan PT Semen. Bahkan PT Semen Indonesia sudah akuisisi pabrik semen di Vietnam sejak 15 tahun lalu," ujar Toto saat dihubungi MNC News Portal, Jakarta, Senin (26/10/2020).

Meski demikian, ada sejumlah catatan yang harus dilakukan Kementerian BUMN. Toto menyebut, upaya mendorong BUMN di taraf dunia bukan hal mudah, butuh kerja keras Erick Thohir dan pemerintah untuk merealisasikan hal tersebut.

Sebagai langkah awal, Kementerian BUMN bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) melalui Kedutaan besar Republik Indonesia (KBRI) untuk menjadi fasilitator dengan otoritas negara terkait. Namun, langkah ini sudah dilakukan Erick Thohir.

Dalam catatan, MNC News Portal, dalam kunjungan kerja sama bilateral dan bisnis, Erick Thohir dan Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi di Inggris dan Swiss, delegasi pemerintah Indonesia melakukan kesepakatan kerja sama bisnis dengan sejumlah pihak. Seperti, menggaet Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI) untuk kerja sama dengan PT Bio Farma (Persero) dalam pengembangan vaksin Covid-19.

Di Swiss, perwakilan Indonesia semakin memperkuat kerja sama strategis di sektor ekonomi yakni antara PT KAI dan perusahaan produsen kereta dunia Stadler Rail. Di mana, KAI dan Stadler akan bekerja sama dalam memproduksi rangkaian kereta. Tak hanya di Indonesia tapi juga di kawasan Asia Oseania.

Catatan lain yang diberikan Toto adalah ihwal implementasi BUMN incorporated. Di mana, Erick segera merealisasikan perjanjian kerja sama antara eks Menteri BUMN Rini Soemarno dengan pemerintah Afrika Timur, Zanzibar. Sebagai tindak lanjut pertemuan Indonesia-Africa Infrastructure Dialogue (IAD) di Bali pada Agustus 2019 lalu.

Dalam perjanjian itu, perusahaan Kraoma SA yang merupakan BUMN tambang Zanzibar yang akan bekerja sama dengan PT Timah Tbk, PT INKA (Persero), PT Kereta Api Indonesia (Persero), PT Wijaya Karya (Persero) Tbk dan PT LEN Industri. Dari Konsorsiumnya, akan ada garapan jalur Kereta Api, pelabuhan, pertambangan, dan pelabuhan.

Wika misalnya, ditunjuk untuk membangun fasilitas terminal pelabuhan cair dan curah senilai 30-40 juta dolar Amerika Serikat (AS) di Zanzibar. Pembangunan fasilitas terminal ini dinilai dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi Zanzibar. Bahkan, dalam konsorsium tersebut, INKA diberikan konsesi selama 25 tahun untuk kelola tambang.

"Hasil ekspor tambang dibagi di antara pemerintah Zanzibar dan konsorsium BUMN," kata dia.

Realisasi kerja sama itu mencerminkan model bisnis dari kekuatan perusahaan BUMN. Bahkan, menjadi contoh model bisnis global BUMN di masa depan dan cukup prospektif bisa dijalankan.

Dengan embrio seperti itu, kata Toto, mestinya rencana membuat BUMN go global punya harapan. Demikian juga kekuatan holding MIND ID, pengalaman akuisisi perusahaan tambang seperti Freeport atau INCO bisa menjadi pembelajaran cepat Kementerian BUMN untuk masuk sebagai pemain kelas dunia.

"Dukungan pembiayaan dari Bank Exim sangat diharapkan. Saatnya BUMN tidak hanya jago kandang, tapi mulai merambah pasar regional dan global," ujarnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini