Pengusaha Ritel Kecewa Jam Operasional Dibatasi

Ferdi Rantung, Jurnalis · Sabtu 07 November 2020 15:24 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 07 320 2305835 pengusaha-ritel-kecewa-jam-operasional-dibatasi-0Yn2U8tLfp.jpg Pengusaha Ritel Keluhkan Terbatasnya Jam Operasional. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia (Aprindo) Roy N Mandey menilai bahwa kebijakan otonomi daerah saat terjadi hal-hal luar biasa seperti Covid-19, harusnya bisa ditarik ke pusat. Hal itu dilakukan agar tidak menimbulkan berbagai macam kondisi.

"Otonomi daerah bisa diratifikasi kembali untuk hal yang luar biasa seperti pandemi. Sebaiknya komando ditarik ke pusat, sebab otonomi daerah menimbulkan berbagai macam kondisi," katanya, , Sabtu (6/11/2020).

Baca Juga: Selama Pandemi Konsumen Cuma Belanja Rp100 Ribu, Abis Itu Buru-Buru Pulang

Dia menilai bahwa kepala daerah banyak yang kurang paham dengan instruksi gas dan rem dari Presiden Joko Widodo. Dalam hal ini yang dimaksudkan bukan hanya kesehatan harus didahulukan, tetapi ekonomi harus juga berjalan.

"Pemahaman gas dan rem, di mana ekonomi harus balance dengan kesehatan, pemahaman ini tidak dimiliki oleh kepala daerah. Dengan segala kepentingan dan lainnya," terangnya.

Roy mengungkapkan, salah satunya contohnya adalah pengurangan jam operasional menjadi 5 jam saja. Dengan jam operasional tersebut membuat produk ikan sayuran dan buah -buahan yang berasal dari UMKM tidak banyak terjual sehingga busuk.

Baca Juga: Orang Kaya Tahan Uang untuk Belanja, Aprindo: Memang Situasi Belum Normal

Kemudian, dengan adanya waktu 5 jam itu, perusahaan tidak melakukan shifting sehingga harus merumahkan karyawannya.

"Tak hanya itu, berkurangnya jam kerja juga mengurangi pendapatan sehingga mengurangi pajak yang disetorkan ke pemerintah pusat untuk dana penanganan dan lainnya," terangnya.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini