Eropa Terapkan Lockdown, Pasar Keuangan Bisa Terguncang

Michelle Natalia, Jurnalis · Minggu 08 November 2020 14:09 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 08 320 2306088 eropa-terapkan-lockdown-pasar-keuangan-bisa-terguncang-MHZDiXZDOG.jpg Euro (Shutterstock)

JAKARTA - Kenaikan kasus Covid 19 menjadi perhatian pelaku pasar. Peningkatan kasus telah memaksa beberapa Negara melakukan penguncian kembali dan cenderung menghalangi trend pemulihan ekonomi yang sedang berlangsung.

Direktur Investama Hans Kwee mengatakan Inggris memasuki penguncian kedua untuk menekan peningkatan jumlah kasus Covid-19. Italia dan Norwegia juga memperketat pembatasan akibat naiknya kasus Covid-19.

 Baca juga: Uni Eropa Resesi, Indonesia Tinggal Tunggu Waktu Saja

" Penguncian ekonomi akibat pendemi berpotensi menurunkan aktivitas ekonomi dan berpotensi mendorong pasar saham terkoreksi," kata Hans Kwee di Jakarta, Minggu (8/11/2020)

Selain itu, harapan stimulus fiskal AS yang besar nampaknya sedikit berkurang menyusul potensi gagalnya gelombang biru Demokrat. Partai Republik diperkirakan masih akan mengontrol Senat dan partai Demokrat di DPR AS. Hal ini berpotensi menyulitkan Biden dan Demokrat meloloskan kebijkan stimulus fiskal dalam jumlah besar.

 Baca juga: Uni Eropa Masuk Jurang Resesi, Pertumbuhan Ekonomi Minus 11,9%

Tertundanya kebijakan fiskal sangat mungkin mendorong Federal Reserve mengeluarkan kebijkan moneter yang lebih akomodatif. Tambahan stimulus moneter, suku bunga rendah dalam jangka panjang karena terbatasnya stimulus fiskal untuk membuat ekonomi Amerika Serikat sulit cepat pulih," katanya.

Tanpa gelombang biru selain menghalangi stimulus fiskal yang besar juga menghalangi perubahan kebijakan yang radikal di AS. Hal ini akan menyulitkan kenaikan pajak perusahaan dan perseroangan, pengawasan perusahaan yang lebih ketat, memperluas healthcare dan memerangi perubahan iklim dengan kebijakan grean energy.

"Hal ini merupakan kuncian yang baik terutama untuk pasar keuangan karena bila terjadi kenaikan pajak perusahaan mendorong valuasi saham menjadi mahal dan berpotensi mendorong pasar saham Amerika Serikat terkoreksi," tandasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini