Kejar Singapura, Nilai Industri Fintech Diprediksi USD100 Miliar

Ferdi Rantung, Jurnalis · Selasa 10 November 2020 12:07 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 10 320 2307183 kejar-singapura-nilai-industri-fintech-diprediksi-usd100-miliar-LStHCRBnvT.jpg Tingkatkan Literasi Keuangan dengan Fintech. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA- Teknologi Finansial atau Fintech memiliki potensi besar dalam mempercepat inklusi keuangan. Penggunaan teknologi dapat mengakses layanan keuangan dengan aman, nyaman, dan berbiaya terjangkau.

“Selamat atas peluncuran IFSoc. Saya memiliki keyakinan bahwa ini bisa mengangkat potensi, tantangan, dan lanskap kebijakan terkait fintech di masa mendatang,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartato, dalam video virtual, Selasa (10/11/2020).

Baca Juga: Kolaborasi Fintech dengan Perbankan di Indonesia, Saling Untung?

Airlangga menjelaskan, fintech akan terus memainkan peranan penting dalam inklusi keuangan yang sudah mencapai sekitar 76%.

“Saya percaya kita bisa memenuhi target keuangan yang inklusif di tahun 2024 sebesar 90%,” terangnya.

Oleh karenanya, digitalisasi layanan keuangan akan menjadi isu krusial dan menjadi tantangan bersama, termasuk soal kebutuhan infrastruktur yang lebih kuat.

"Termasuk soal kebutuhan infrastruktur yang lebih kuat," katanya.

Sementara itu, pada 2019, laporan Google, Temasek, dan Bain & Co menunjukkan bahwa ekonomi digital Indonesia adalah yang terbesar dengan pertumbuhan tercepat di ASEAN.

Baca Juga: Investasi Bodong Merajarela, OJK: Kuncinya Logis dan Legal

Fintech memilki peranan besar dalam hal ini, dengan estimasi nilai sebesar USD40 miliar dan pertumbuhan tahunan sebesar hampir 50%.

“Pada tahun 2025, fintech diperkirakan bernilai lebih dari USD100 miliar, didorong terutama oleh pembayaran digital, e-commerce, layanan transportasi online, distribusi barang, dan lain-lain,” papar Airlangga.

Pada tahun ini, Indonesia juga terus mengejar Singapura dalam jumlah fintech. Singapura memiliki 39% dari seluruh jumlah fintech di ASEAN, diikuti oleh Indonesia (20%), Malaysia (15%), dan Thailand (10%).

Kemudian dalam hal penyaluran pinjaman, akumulasi penyaluran peer-to-peer (P2P) lending mencapai lebih dari Rp100 triliun hingga September 2020, naik sebesar 113,05% secara year-on-year (yoy).

Di penghujung sambutannya, Menko Airlangga mengajak semua pihak untuk terus bekerja sama mengakselerasi pemulihan ekonomi nasional dan mengejar pertumbuhan positif.

“Kolaborasi pemerintah, akademisi, media massa, sektor bisnis, dan masyarakat diperlukan untuk pemulihan ekonomi nasional. Termasuk dalam hal inisiatif sektor keuangan dan teknologi finansial,” tegasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini