Lindungi Bumi, Raja Salman Soroti Pentingnya Ekonomi Hijau

Michelle Natalia, Jurnalis · Senin 23 November 2020 08:45 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 23 320 2314204 lindungi-bumi-raja-salman-soroti-pentingnya-ekonomi-hijau-eQmTRenYqe.jpg Raja Salman di KTT G20 (Foto: Okezone.com/G20)

RIYADH - Raja Arab Saudi Ketujuh sekaligus Penjaga Dua Kota Suci, Salman bin Abdulaziz Al-Saud menekankan pentingnya ekonomi hijau di KTT G20. Dia mengatakan, saat dunia pulih dari dampak pandemi, semua negara harus bisa menciptakan kondisi yang kondusif dari ekonomi yang kuat, inklusif, seimbang, dan berkelanjutan.

"Dengan cara-cara yang memungkinkan bagi manusia, lalu melindungi planet ini, dan membentuk batas baru untuk memanfaatkan peluang abad ke-21 bagi semua," ujar Salman dalam G20 Riyadh Summit 2020 di Riyadh, Minggu malam (22/11/2020).

Baca Juga: KTT G20 Berakhir, Raja Salman Lempar Estafet ke Italia

Menjaga bumi, tekan dia, sangatlah penting. Dengan peningkatan emisi akibat pertumbuhan ekonomi dan populasi, semua negara harus merintis pendekatan yang berkelanjutan, pragmatis, dan hemat biaya untuk mencapai target iklim yang ambisius.

"Dengan semangat ini, G20 di bawah kepemimpinan Saudi telah mempromosikan Ekonomi Karbon Sirkular (CCE) yang memungkinkan pengelolaan emisi secara holistik untuk mengurangi tantangan dampak iklim dan memajukan sistem energi yang lebih bersih dan berkelanjutan, serta memajukan pasar energi dan akses energi yang stabil dan aman," jelas Salman.

Baca Juga: G20 Sepakat Beri Dukungan Negara Berkembang Terdampak Covid-19

Melalui inisiatif ini, negara-negara akan dapat mengadopsi dan mempromosikan teknologi yang sesuai dengan jalur transisi mereka melalui 4R Ekonomi Karbon Sirkular (Reduce, Reuse, Recycle, Remove). “4R” terdiri dari pendekatan holistik, terintegrasi, dan pragmatis yang menghargai semua opsi untuk mengelola emisi di semua sektor.

Kerajaan Saudi secara resmi akan meluncurkan Program Nasional Ekonomi Karbon Sirkuler yang berdedikasi yang akan mengkonsolidasikan dan mempercepat momentum saat ini menuju keberlanjutan secara holistik.

 

"Kami meminta negara lain untuk bekerja bersama kami untuk membantu mencapai tujuan program ini, yakni mengatasi perubahan iklim sambil terus menciptakan pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan umat manusia," tambahnya.

Pada tahun 2012, Arab Saudi meluncurkan Program Efisiensi Energi Saudi, sebuah landasan pengurangan emisi dalam kerangka CCE.

"Di Kerajaan, kami memiliki banyak inisiatif yang menangkap karbon dan mengubahnya menjadi bahan baku yang berharga. Ini termasuk pabrik pemurnian CO2 terbesar di dunia yang dibangun oleh Saudi Basic Industries Corporation (SABIC) dengan kapasitas 500.000 ton per tahun dan rencana pemulihan minyak Saudi Aramco yang ditingkatkan dengan emisi CO2 800.000 ton per tahun," terang Salman.

Demikian juga, di NEOM, Arab Saudi sedang mengembangkan pabrik hidrogen hijau terbesar. Menyadari peran penting sekuestrasi karbon berbasis alam, Kerajaan Saudi telah mendukung tujuan ambisius untuk melestarikan, memulihkan, dan mengelola 1 miliar hektar lahan terdegradasi secara berkelanjutan pada tahun 2040.

"Selain itu, kami memiliki rencana besar untuk energi terbarukan, termasuk angin dan matahari yang akan menghasilkan 50% listrik untuk Saudi pada tahun 2030," tukas Salman.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini