Suka atau Tidak, Covid-19 Bikin Kemiskinan RI Melonjak

Suparjo Ramalan, Jurnalis · Selasa 24 November 2020 19:23 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 24 320 2315472 suka-atau-tidak-covid-19-bikin-kemiskinan-ri-melonjak-VtMHYntKXb.jpg Menteri BUMN Erick Thohir (Dok BUMN)

JAKARTA - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengungkapkan, akibat pandemi Covid-19 kenaikan angka kemiskinan di Indonesia akan terus terjadi. Hal tersebut seiring dengan jumlah pengangguran yang terus membengkak.

"Seperti halnya yang terjadi di negara-negara lain, pandemi Covid-19 telah memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia, sampai dengan kuartal ke III (2020) ini, pertumbuhan ekonomi kita masih minus 3,49% secara yoy, terpuruknya perekonomian tersebut juga memberikan dampak kepada tenaga kerja kita. Pemerintah mencatat pandemi ini memberikan 2,56 juta orang kehilangan pekerjaan," ujar Erick dalam acara Ekonomi Outlook 2020, Selasa (24/11/2020).

 Baca juga: Orang Miskin di Indonesia Naik Jadi 28 Juta Orang Efek Covid-19

Tak hanya itu, tercatat lebih 1,8 juta orang mengalami penurunan pendapatan, karena itu, Erick mengutarakan, akibat Covid-19 mau tidak mau, suka tidak suka akan berpotensi akan menaikan angka kemiskinan di Indonesia.

Meski demikian, pemerintah tidak menyerah dengan kondisi krisis yang terjadi saat ini. Justru, momentum krisis ini bisa dimanfaatkan menjadi peluang dan lompatan bagi Indonesia untuk mengejar ketertinggalannya.

 Baca juga: Sri Mulyani Ingin Potong Tali Kemiskinan, Begini Caranya

"Inilah saatnya kita membenahi diri secara fundamental," katanya.

Erick menegaskan, Indonesia harus melakukan transformasi dan menjalankan strategi besar di sejumlah sektor. Baik ekonomi, hukum, pemerintahan, sosial, kebudayaan, hingga di sektor lingkungan.

Strategi itu diperlukan untuk melakukan lompatan-lompatan besar di tengah pandemi Covid-19 sekaligus mengejar ketertinggalan Indonesia dengan negara-negara lain di sektor strategis tersebut.

Karena itu diperlukan langkah transformasi dan strategis baik jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Di mana, strategi jangka pendek untuk survive, jangkah menengah untuk restart, dan jangka panjang untuk inovasi.

"Kita memerlukan strategi yang bersifat jangka pendek untuk survive, jangka menengah untuk restrat, dan jangka panjang untuk inovasi. UU Ciptaker lahir untuk mendobrak stagnasi pertumbuhan ekonomi Indonesia," ujar dia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini