Kasus Covid-19 Makin Parah, IMF Peringatkan tentang Pelemahan Ekonomi

Giri Hartomo, Jurnalis · Selasa 01 Desember 2020 11:37 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 01 320 2319369 kasus-covid-19-makin-parah-imf-peringatkan-tentang-pelemahan-ekonomi-tm5EESUSlD.jpeg Waspada Virus Corona. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Dana Moneter Internasional (IMF) telah memperingatkan dinamika pandemi di Eropa yang berubah signifikan. IMF memperkirakan jika pertumbuhan ekonomi di kawasan Eropa akan lebih lemah dari perkiraan sebelumnya.

Dalam pernyataan penutup tahun 2020 tentang kawasan Eropa, IMF juga mengatakan bahwa tambahan stimulus fiskal dan moneter kemungkinan akan diperlukan untuk mendukung kawasan tersebut.

Baca Juga: G20 Sepakat Beri Dukungan Negara Berkembang Terdampak Covid-19

Sebab, IMF memperingatkan bahwa pemulihan ekonomi di 19 negara zona euro berada di bawah ancaman dari gelombang kedua infeksi virus corona yang sedang berlangsung. Apalagi dikombinasikan dengan penerapan kembali lockdown di beberapa negara sehingga merusak kepercayaan dan menurunkan mobilitas masyarakat

Gelombang kedua pandemi ini berarti bahwa pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dari perkiraan yang terlihat pada kuartal ketiga tahun ini kemungkinan besar akan diikuti oleh pertumbuhan yang lebih lemah dalam tiga bulan terakhir tahun ini.

 

Tak lupa IMF juga memperingatkan, jika pertumbuhan di negara-negara kawasan Eropa akan lebih lemah di kuartal I-2020. Kecuali ada situasi yang signifikan yang mengalami perubahan.

"Krisis kesehatan yang berkepanjangan dan pemulihan yang lambat akan menyebabkan kondisi keuangan yang lebih ketat dan kerentanan sektor swasta dan publik yang meningkat, sementara histeresis pasar tenaga kerja yang signifikan akan meningkatkan ketidaksetaraan dan kemiskinan.?Secara keseluruhan, efek 'bekas luka' ini juga akan menekan potensi pertumbuhan kawasan euro,” kata IMF mengutip dari CNBC.

IMF pun menyebut perlu adanya stimulus tambahan dari Bank Sentral. Meskipun, negara Uni Eropa telah menyelesaikan atau menyalurkan stimulus sebesar USD900 juta.

"Memperluas pembelian aset akan menjadi garis pertahanan pertama, tetapi opsi lain — termasuk pelonggaran lebih lanjut dari persyaratan Operasi Pembiayaan Ulang Jangka Panjang Bertarget dan penurunan suku bunga deposito juga harus dipertimbangkan," tulisnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini