Literasi Keuangan RI Meningkat, Ini Buktinya Kondisi 2013 vs 2020

Fitria Dwi Astuti , Jurnalis · Kamis 03 Desember 2020 20:52 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 03 11 2321240 literasi-keuangan-ri-meningkat-ini-buktinya-kondisi-2013-vs-2020-oATlyasLt2.jpg Foto: Dok OJK

JAKARTA - Tingkat literasi keuangan di Indonesia terus meningkat. Peningkatan itu sejalan dengan peran Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang terus mendorong pertumbuhan sektor jasa keuangan Indonesia.

Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eko Listiyanto mengatakan, indeks literasi dan inklusi keuangan di Indonesia memang meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Berdasarkan Data Survei OJK, dia menyebutkan literasi keuangan Indonesia naik dari 21% tahun 2013 menjadi 40% tahun 2020. Meski naik, dia mengatakan potensi untuk meningkatkan peran sektor jasa keuangan bagi perekonomian masih sangat besar.

 “Ini masih membutuhkan perjuangan panjang lebih dari setengah masyarakat Indonesia belum memahami sektor keuangan dengan benar. Banyaknya masyarakat yang belum terliterasi ini menjadi peluang bagi pelaku investasi bodong,” jelas Eko, dalam Forum Diskusi Salemba Policy Center ILUNI UI dengan tema “9 Tahun Peran Otoritas Jasa Keuangan dalam Menjaga Inklusi Jasa Keuangan Indonesia”, Kamis (3/12/ 2020).

 Dari sisi produk, paparnya, literasi keuangan juga masih dipimpin oleh perbankan. Berikut datanya:

1. Perbankan

Perbankan naik dari 28,9% tahun 2016 menjadi 36,12% tahun 2020

2. Asuransi

Asuransi naik dari 15,8% menjadi 19,40%

 3. Dana Pensiun

Dana pensiun naik dari 10,9% menjadi 14,13%.

4. Pasar modal

Pasar modal naik dari 4,4% menjadi 4,92%

5. Lembaga pembiayaan

Lembaga pembiayan mengalami kenaikan dari 13% menjadi 15,17%

6. Pegadaian

Pegadaian dari 17,8% meningkat menjadi 17,81%

7. Lembaga Keuangan Mikro 

Meningkat dari 0% menjadi 0,82%.

Sementara berdasarkan provinsi, tingka literasi keuangan tertinggi masih ada di DKI Jakarta naik dari 59,16% menjadi 94,76% selama periode yang sama.

Di Bali naik dari 38,06% menjadi 92,91%. Namun, di beberapa provinsi masih relatif rendah, seperti di Papua dan Papua Barat.

“Sementara itu, capaian inklusi keuangan sudah relatif lebih baik, yaitu lebih dari 75% masyarakat Indonesia sudah terhubung dengan sektor keuangan. Ini sebuah capaian yang bagus, tetapi bicara dampaknya masih banyak tantangannya,” paparnya.

Dia menambahkan meskipun terus meningkat, indeks inklusi keuangan Indonesia masih di bawah Thailand yang mencapai 76%, Thailand 82% dan Malaysia 85%. Kondisi ini menjadi tantangan sekaligus menunjukkan potensi peran sektor jasa keuangan terhadap perekonomian masih sangat besar.

“Perlu upaya akselerasi dan optimalisasi dari inklusi keuangan. Tidak hanya melihat dari target dan progres dengan ada peningkatannya. Namun, jika melihat dampak ke hilir, yaitu bagaimana pengaruhnya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi,” papar Eko.

CM

(yao)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini