Lelang Proyek MRT Fase 2 Gagal Berkali-kali, Kenapa Ya?

Giri Hartomo, Jurnalis · Kamis 10 Desember 2020 18:29 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 10 320 2325385 lelang-proyek-mrt-fase-2-gagal-berkali-kali-kenapa-ya-WwnJDBZz3n.jpg MRT Fase 2 (Foto: Okezone)

JAKARTA - PT Mass Rapid Transit atau Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta mengalami beberapa masalah dalam pembangunan fase 2 dari Bundaran Hotel Indonesia (HI) menuju Kota. Salah satunya adalah kegagalan tender pada beberapa paket proyek khususnya paket CP202 dan CP205

Direktur Utama MRT Jakarta William Sabandar mengatakan, untuk paket CP202 sudah kesekian kalinya mengalami gagal tender karena tidak ada peminat. Pertama adalah ketika lelang di 4 November 2019 dan yang kedua adalah pada Juli 2020.

“Jadi untuk fase CP202 sebagaimana kita ketahui untuk membangun konstruksi bisnis dari Harmoni ke Mangga Besar itu mengalami kegagalan tender. Jadi kita melaksanakan tender gagal di 4 November 2019, kemudian kita melakukan tender yang kedua ternyata juga tidak ada pemasukan dan gagal pada 6 Juli 2020,” ujarnya dalam acara forum jurnalis MRT Jakarta secara virtual, Kamis (10/12/2020).

Baca Juga: MRT Jakarta Bakal Comot 51% Saham KCI, Mahar Rp1,7 Triliun Disiapkan 

Menurut William, ada beberapa hal yang menjadi penyebab sering gagalnya lelang yang dilakukan oleh MRT Jakarta untuk CP2020. Pertama adalah masalah interfacing di mana ketika adanya pandemi, ada beberapa pembatasan sosial yang diterpakan pemerintah untuk mengurangi penyebaran virus.

“Karena isu yang paling mengemuka ketika CP202 gagal ini karena issue interfacing. Bagaimana pekerjaan yang diserah terimakan,” kata William.

 Penerapan PSBB, MRT Tidak Berhenti di Stasiun Haji Nawi, Blok A dan Asean

Sedangkan, dalam pengerjaan satu paket ini perlu ada proses serah terima antara satu kontraktor dengan yang lainnya. Mengingat, pengerjaan satu paket ini digarap oleh dua kontraktor yang berbeda antara pengerjaan terowongan dengan pemasangan rel.

“Karena kita tahu saat membangjn terowongan nanti akan ada issue kita harus memasang rel kereta api koordinasi antar dua kontraktor ini menjadi issue. Oleh karena itu kita advice kita gabungkan saja CP202 dan 205. Ini adalah proses yang kita sepakati,” kata William

Selain itu, alasan gagal karena kontraktor merasa tidak mampu mengerjaakan proyek dengan waktu yang singkat, sehingga ke depannya, MRT Jakarta memutuskan untuk memperpanjang waktu pengerjaan dari 58 menjadi 73 bulan.

“Jadi CP202 itu 2 kali gagal karena peserta lelang merasa terlalu sulit dan jangka waktunya terlalu pendek. Sehingga dari 58 bulan terpaksa harus diperpanjang jadi 73 bulan sehingga CP202 mundur ke Agustus,” jelasnya.

Meskipun jangka waktu pengerjaan sudah diperpanjang, kontraktor asal Jepang itu juga masih takut dalam menggarap proyek itu. Sebab tingkat kesulitannya sangat tinggi untuk mengerjakan proyek infrastruktur dari Harmoni sampai Mangga Besar itu.

"Tingkat kesulitan misalnya mereka melihat soal di situ banyak bangunan bersejarah, tanah lembek di bawah sungai. Jadi pengerjaan CP202 ini sangat sulit, secara teknis paling susah, sehingga kontraktor Jepang sangat hati-hati. Karena kita akan bangun di atas Kali Ciliwung untuk bangun dek, supaya traffic tidak terganggu dan kemungkinan akan berpengaruh terhadap debit sungai bisa membuat kali itu meluap. Ini yang membuat kontraktor berhati-hati," jelasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini