Ekspor Barang Industri Kerajinan Turun Jadi Rp6,17 Triliun

Michelle Natalia, Jurnalis · Sabtu 12 Desember 2020 12:38 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 12 320 2326339 ekspor-barang-industri-kerajinan-turun-jadi-rp6-17-triliun-lvvoJqE9AN.jpeg Grafik Ekonomi (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Kemenperin mencatat, nilai ekspor Barang Industri Kerajinan pada periode Januari – September 2020 sebesar USD435 juta atau setara Rp6,17 Triliun. Nilai tersebut mengalami penurunan sebesar 9,9% jika dibandingkan dengan nilai ekspor periode Januari – September 2019 yang tercatat sebesar USD483 juta atau setara Rp6,71 Triliun.

Direktur Jenderal IKMA Gati Wibawaningsih mengatakan saat ini banyak masyarakat melakukan sebagian besar kegiatannya dari rumahnya masing-masing, terutama masyarakat yang hidup di kota-kota besar di Indonesia.

Baca Juga: Kekayaan Indonesia, Larva Kering Riau Diekspor ke Inggris

"Kebiasaan yang baru ini nampaknya mendorong masyarakat kota untuk membuat rumahnya lebih nyaman dengan berbagai macam cara, salah satunya dekorasi interior yang dapat membuat suasana rumah semakin nyaman. Mulai dari melakukan peremajaan infrastruktur hingga perlengkapan rumah tangga seperti tudung saji yang dibuat selaras," ujar Gati Wibawaningsih di Jakarta, Sabtu (12/12/2020).

Baca Juga: Jokowi Lepas Ekspor Terbesar Tahun Ini Senilai Rp23,75 Triliun

Tudung saji merupakan salah satu produk dari Industri Kerajinan. Untuk itu diperlukan suatu langkah dari pemerintah untuk menggiatkan kembali perajin salah satunya melalui kompetisi.

“Para perajin harus ikut beradapatasi memaksimalkan potensi untuk improvisasi agar dapat terus berkreasi. Para perajin dituntut untuk terus berinovasi mengeluarkan ide, dan karya kreatif yang dapat memberikan pengaruh postif pada perkembangan indsutri kerajinan,” tambah Gati.

Wakil Ketua Harian I Dekranas, Loemongga Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan, kegiatan kompetisi tudung saji sejalan dengan tujuan dibentuknya Dekranas yaitu mengembangkan kerajinan nasional, dengan menanamkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kerajinan bagi kehidupan sehari hari warga negara Indonesia serta melestarikan kebudayaan asli tanpa mengabaikan penggunaan penemuan dan teknologi baru dalam rangka mengembangkan identitas budaya bangsa kita.

"Kita memperhatikan dan memperjuangkan kepentingan pengusaha kecil / perajin dan seniman dengan mendorong semangat kewirausahaan mereka salah satunya melalui kegiatan kompetisi tudung saji ini," imbuhnya.

Tudung saji merupakan warisan budaya turun temurun dari nenek moyang yang memiliki nilai historis dan filosofis tinggi. Tudung saji, terdiri dari dua kata, yaitu Tudung dan Saji. Tudung berarti penutup dan Saji berarti sajian atau hidangan. Tudung saji merupakan penutup makanan yang dianyam dari daun pandan hutan (berduri) yang sering dipakai oleh sebagai penutup dulang tempat makanan yang dihidangkan kepada para tamu atau majelis untuk melindungi makanan dari lalat dan sebagainya.

"Filosofi tudung saji adalah memohon perlindungan dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Sehingga Tudung saji merepresentasikan perlindungan terhadap nilai-nilai budaya kita yang dituangkan dalam bentuk produk-produk kerajinan. Untuk itulah kegiatan ini dilaksanakan sebagai bentuk apresiasi kepada para pengrajin Indonesia sebagai penjaga warisan budaya nenek moyang kita,” tambah Loemongga.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini