JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan neraca perdagangan Indonesia pada November 2020 mengalami surplus sebesar USD2,62 miliar. Angka ini berasal dari selisih nilai ekspor Indonesia USD15,28 miliar dan impor USD12,66 miliar.
Ini merupakan surplus tujuh kali neraca dagang Indonesia pada tahun ini. Ini memperpanjang rentetan surplus setelah pada Oktober sudah mencatatkan enam kali.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengatakan posisi neraca perdagangan Indonesia juga masih mencatat surplus terhadap Amerika Serikat (AS) sebesar USD948,7 juta.
"Setelah Amerika Serikat, Indonesia juga mencatatkan surplus dengan Filipina di tempat kedua dengan angka USD523 juta. Kemudian di tempat ketiga ada India yang surplus sebesar USD603,8 juta," ujar dia dalam paparan secara virtual, Selasa (15/12/2020).
Baca Juga: Neraca Perdagangan RI Surplus USD2,62 Miliar, 7 Kali Berturut-turut!
Akan tetapi untuk China, Indonesia masih mengalami defisit sebesar USD527,6 juta. Angka tersebut karena ekspor Indonesia ke China mencapai USD461,8 juta sedangkan impornya hanya USD1,09 miliar.
"Lalu dengan Hong Kong juga defisit USD198 juta dan Australia USD142,6 juta," ungkap dia.
Setelah China ada negara Malaysia, Pakistan, Jepang, dan India. Menurutnya nilai ekspor ke Malaysia bertambah sebesar USD158,1 juta, ke Pakistan bertambah USD128,9 juta, ke Jepang bertambah USD124,2 juta, dan India bertambah USD87,9 juta.
Dia juga menambahkan yang mengalami penurunan ekspor yakni ke Swiss sebesar USD136,4 juta, lalu ke Spanyol, Vietnam, Filipina dan Myanmar juga turun.
"Dengan peningkatan dan penurunan kinerja ekspor tersebut, maka pangsa ekspor non migas nasional masih tidak berubah, posisi pertama masih diduduki oleh China dengan share 22,87% atau setara dengan USD3,32 miliar. Lalu disusul oleh Amerika Serikat (AS) share-nya sebesar 11,06%, lalu Jepang sebesar 8,18%, dan India sebesar 6,64%," tandas dia.
(Dani Jumadil Akhir)