Muhammadiyah Bakal Tarik Semua Dana di Bank Syariah Indonesia, Ini Kata BRIS

Rina Anggraeni, Jurnalis · Jum'at 18 Desember 2020 19:44 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 18 278 2330399 muhammadiyah-bakal-tarik-semua-dana-di-bank-syariah-indonesia-ini-kata-bris-HhESyROHHU.png PP Muhammadiyah Berencana Tarik Seluruh Dana di Bank Syariah Indonesia. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - PP Muhammadiyah tidak lagi perlu mendukung Bank Syariah Indonesia sehingga sudah waktunya menarik dan mengalihkan semua dana yang ditempatkan dan mengalihkan seluruh pembiayaan yang diterimanya kepada bank baru yang menjadi mitranya.

Untuk itu, pihaknya akan membentuk satu tim khusus yang diisi oleh para ahli keuangan, para banker dan mantan-mantan banker serta mantan-mantan regulator untuk mempersiapkan penarikan seluruh dana Muhammadiyah yang ada di Bank Syariah Indonesia.

Baca Juga: Ini Alasan Muhammadiyah Tarik Seluruh Dana dan 'Tinggalkan' Bank Syariah Indonesia

Menanggapi ini, Sekretaris Perusahaan PT Bank BRI Syariah Tbk (BRIS) Mulyatno Rachmanto mengatakan, komitmen Bank Syariah Indonesia untuk pelaku UMKM tidak akan kendor. Bahkan dengan bersatunya tiga bank, Bank Syariah Indonesia akan mampu memperkuat dukungan kami untuk lebih banyak pelaku UMKM di Indonesia.

"Dalam Rancangan Penggabungan yang kami publikasikan, komitmen dukungan kepada UMKM ini jelas tercantum," ujar Mulyatno, di Jakarta, Jumat (17/12/2020).

Baca Juga: 4 Fakta Menarik Muhammadiyah Akan Tarik Seluruh Duit di Bank Syariah Indonesia

Kata dia, Bank Syariah Indonesia akan terus memberikan dukungan kepada para pelaku UMKM, diantaranya melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan melalui produk dan layanan keuangan Syariah yang sesuai dengan kebutuhan UMKM baik secara langsung maupun melalui sinergi dengan bank-bank Himbara dan Pemerintah Indonesia.

"Kami juga siap untuk berkolaborasi dengan Muhammadiyah, NU juga organisasi kemasyrakatan lainnya untuk memajukan pelaku UMKM Indonesia. Karena merekalah tulang punggung perekonomian nasional," tandasnya

Sebelumnya, Ketua Bidang Ekonomi Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah Anwar Abbas menilai dengan mergernya bank syariah milik BUMN menjadi Bank Syariah Indonesia akan membuat ekonomi umat yang banyak di level Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) akan semakin tidak tertolong. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal.

Anwar menjelaskan, pada Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 17 tahun 2015 tentang UMKM menyatakan dunia perbankan harus mengalokasikan kredit dan pembiayaannya minimal 20% kepada UMKM. Pada praktiknya, tahun 2015 hanya kurang dari 5%, tahun 2016 kurang kurang dari 10%, tahun 2017 kurang dari 15% dan tahun 2018 kurang dari 20%. Padahal dalam amanat PBI di ujung tahun 2018 total kredit dan pembiayaan yang sudah dikucurkan minimal 20%, tetapi faktanya tahun 2019 hanya 19,1%.

"Tapi salah seorang komisaris bank mengatakan kepada saya hanya 18%, padahal jumlah UMKM 99,99%, dengan jumlah pelaku 64 juta dan karyawannya 117 juta. Usaha besar jumlahnya hanya 0,01% dengan jumlah pelaku 5.550 pelaku dan tenaga kerja hanya 3,5 juta. Adilkah?" ujar Anwar.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini