4 Fakta Menarik Muhammadiyah Akan Tarik Seluruh Duit di Bank Syariah Indonesia

Dani Jumadil Akhir, Jurnalis · Kamis 17 Desember 2020 11:02 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 17 320 2329256 4-fakta-menarik-muhammadiyah-akan-tarik-seluruh-duit-di-bank-syariah-indonesia-HJmQtluHoZ.jpg Rupiah (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - PP Muhammadiyah tidak lagi perlu mendukung Bank Syariah Indonesia sehingga mungkin sudah waktunya untuk menarik dan mengalihkan semua dana yang ditempatkan di bank tersebut dan juga mengalihkan seluruh pembiayaan yang diterimanya kepada bank baru yang menjadi mitranya.

Untuk itu, pihaknya akan membentuk satu tim khusus yang diisi oleh para ahli keuangan, para banker dan mantan-mantan banker serta mantan-mantan regulator untuk mempersiapkan penarikan seluruh dana Muhammadiyah yang ada di Bank Syariah Indonesia.

Baca Juga: 'Tinggalkan' Bank Syariah Indonesia, Muhammadiyah Simpan Dana Jumbo di Bank Ini 

Berikut fakta-fakta soal Muhammadiyah bakal tarik dana di Bank Syariah Indonesia seperti dirangkum Okezone, Jakarta, Kamis (17/12/2020).

1. Tarik Dana di Bank Syariah Indonesia

Ketua Bidang Ekonomi PP Muhammadiyah Anwar Abbas mengatakan, ada kemungkinan untuk Muhammadiyah tidak lagi perlu mendukung Bank Syariah Indonesia sehingga mungkin sudah waktunya untuk menarik dan mengalihkan semua dana yang ditempatkan di bank tersebut dan juga mengalihkan seluruh pembiayaan yang diterimanya kepada bank baru yang menjadi mitranya.

"Apakah itu bank negara syariah yang tidak ikut merger atau Bank Pembangunan Daerah (BPD) Syariah atau BPD yang ada unit syariahnya serta kepada bank-bank umum syariah atau bank-bank umum yang punya unit syariahnya," ujar Anwar dalam keterangan tertulis, Rabu (16/12/2020).

 

2. Siapkan Tim Khusus

 

PP Muhammadiyah akan membentuk satu tim khusus yang diisi oleh para ahli keuangan, para banker dan mantan-mantan banker serta mantan-mantan regulator untuk mempersiapkan penarikan seluruh dana Muhammadiyah yang ada di Bank Syariah Indonesia.

Nantinya akan memindahkannya ke bank syariah mitra yang baru yang mau berkomitmen bersama Muhammadiyah untuk membantu memajukan ekonomi umat/rakyat dan UMKM.

Karena salah satu misi ekonomi Muhammadiyah adalah bagaimana Muhammadiyah lewat kerjasamanya dengan berbagai mitranya mau secara aktif membantu tujuan dan cita-cita Muhammadiyah untuk memberdayakan ekonomi umat/rakyat serta Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM)," kata dia dalam keterangan tertulis, Rabu (16/12/2020).

Untuk itu, pihaknya berharap dengan tim yang segera dibentuk oleh PP Muhammadiyah agar dalam waktu dekat atau dalam waktu yang tidak terlalu lama sudah bisa menarik dan memindahkan semua dana yang ada di Bank Syariah Indonesia hasil merger tersebut.

"Baik dalam bentuk giro tabungan dan deposito kepada bank-bank syariah atau yang punya unit syariah yang menjadi mitra baru yang mau memiliki komitmen bersama Muhammadiyah untuk memajukan ekonomi umat, ekonomi rakyat banyak dan UMKM," ucapnya.


3. Muhammadiyah Pindahkan ke Bank Ini

Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah mengkaji menarik seluruh dana yang tersimpan di Bank Syariah Indonesia. Nantinya, dana tersebut dialihkan ke bank syariah lainnya.

Namun, sayangnya Muhammadiyah tidak menyebut besaran dana yang akan ditarik dan bank syariah mana yang nantinya akan menyimpan peralihan dana dari Bank Syariah Indonesia.

"Baik dalam bentuk giro tabungan dan deposito kepada bank-bank syariah atau yang punya unit syariah yang menjadi mitra baru yang mau memiliki komitmen bersama muhammadiyah untuk memajukan ekonomi umat, ekonomi rakyat banyak dan UMKM," kata Ketua Bidang Ekonomi PP Muhammadiyah Anwar Abbas dalam keterangan tertulis, Rabu (16/12/2020).

 

4. Alasan Muhammadiyah Tarik Seluruh Dana

Ketua Bidang Ekonomi Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah Anwar Abbas menilai dengan mergernya bank syariah milik BUMN menjadi Bank Syariah Indonesia akan membuat ekonomi umat yang banyak di level Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) akan semakin tidak tertolong. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal.

Anwar menjelaskan, pada Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 17 tahun 2015 tentang UMKM menyatakan dunia perbankan harus mengalokasikan kredit dan pembiayaannya minimal 20% kepada UMKM. Pada praktiknya, tahun 2015 hanya kurang dari 5%, tahun 2016 kurang kurang dari 10%, tahun 2017 kurang dari 15% dan tahun 2018 kurang dari 20%. Padahal dalam amanat PBI di ujung tahun 2018 total kredit dan pembiayaan yang sudah dikucurkan minimal 20%, tetapi faktanya tahun 2019 hanya 19,1%.

"Tapi salah seorang komisaris bank mengatakan kepada saya hanya 18%, padahal jumlah UMKM 99,99%, dengan jumlah pelaku 64 juta dan karyawannya 117 juta. Usaha besar jumlahnya hanya 0,01% dengan jumlah pelaku 5.550 pelaku dan tenaga kerja hanya 3,5 juta. Adilkah?" ujar Anwar dalam keterangan tertulis, Rabu (16/12/2020) malam.

Anwar menjelaskan, Muhammadiyah dengan teologi almaunnya ingin membela orang yang lemah. Oleh karena itu, Bank Syariah Indonesia seharusnya berpihak kepada UMKM. "Tapi karena Bank Syariah Indonesia sudah menjadi bank yang besar tentu dia tidak lagi akan bermain di yang kecil atau UMKM," ucapnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini