Horor dan Bikin Merinding, Cerita Bos Sawit Tersasar di Hotel Bintang 5 Jakarta yang Sudah Tutup

Djairan, Jurnalis · Selasa 29 Desember 2020 10:33 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 29 470 2335472 horor-dan-bikin-merinding-cerita-bos-sawit-tersasar-di-hotel-bintang-5-jakarta-yang-sudah-tutup-zzPtQ8az1f.jpg Cerita Mistis Bos Sawit (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Salah satu bos yang tergabung dalam Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) membagikan pengalamannya. Bukan perihal usaha perkebunan kelapa sawit, namun cerita saat tersasar di hotel bintang lima yang membuat merinding.

Dia adalah Tofan Mahdi. Tofan merupakan Ketua Bidang Komunikasi Gapkin yang juga menjabat sebagai Senior Vice President of Communications and Public Affair.

MNC Portal sudah mengonfirmasi kebenaran cerita tersebut langsung kepada Tofan dan dizinkan untuk diberitakan

“Kisah 10 menit di sebuah hotel bintang 5 di Jakarta. Kisah ini mengandung cerita yang mengundang bulu kuduk berdiri,” ujar Tofan melalui laman Facebook pribadinya, dikutip Selasa (29/12/2020).

Tofan membagikan cerita yang dialaminya sendiri pada pekan lalu di Jakarta. Saat itu, dia diundang menjadi pembicara webinar oleh salah satu lembaga pemerintah. Meski virtual, tetapi Tofan dan pembicara lainnya harus datang secara fisik.

Saat datang ke lokasi, Tofan memastikan acara akan digelar di sebuah hotel bintang lima yang satu grup dengan sebuah apartemen di Jakarta. Dia juga telah mengonfirmasi ke salah satu panitia, bahwa acara itu benar diadakan di hotel tersebut. Pada hari itu, Tofan mulai merasakan banyak kejanggalan di hotel yang dia datangi sekitar pukul jam 07.30 pagi.

“Saya sudah masuk halaman hotel. Agak aneh karena kotak tiket parkir tidak berfungsi. Ada pos security, ada seorang bapak yang berjaga,” ujarnya.

Dari pintu gerbang hotel, Tofan melihat sebuah taxi menurunkan penumpang dan disambut seorang bell boy di depan lobi, layaknya hotel yang beroperasi pada umumnya.

Lalu, dia langsung mencari tempat parkir di basement hotel yang sangat gelap, ada genangan air cukup besar, dan hanya ada dua mobil yang parkir. Tapi sepertinya mobil itu sudah terparkir cukup lama. “Sepi sekali,” batin Tofan.

Setelah memilih posisi parkir yang tidak terlalu jauh dari akses ke lobi, dia berjalan menuju lift di basement. Lift tersebut tidak jauh dari kedai makan pegawai hotel dan driver yang tampak tutup, dan sepagi itu tidak ada orang sama sekali.

Menunggu lift, Tofan melihat ada tiga orang yang ikut masuk. Seorang bapak dan ibu setengah baya, dan seorang anak lelaki berusia sekitar 9-10 tahun, mereka berpenampilan rapi.

Tofan tidak terlalu memperhatikan mereka, karena asyik dengan pikirannya sendiri. Lift terbuka di lantai lobi, dan di depan lift berdiri seorang Office Boy (OB) yang tampak membawa perlengkapan pembersih lantai.

Tofan mulai berjalan ke kiri, sementara bapak yang bersama Tofan tadi berjalan ke arah kanan, samar-samar dia menanyakan toilet ke OB.

“Saya mencari desk resepsionis, no body. Baru saya ngeh bahwa ternyata hotel ini sudah tutup,” tulis Tofan.

Tapi dia masih mau memastikan hotel itu benar-benar tutup. Tofan langsung memeriksa pintu kaca lobi utama hotel, benar saja terkunci. Lalu dia ingin memeriksa lantai dua, tapi urung karena sepertinya sepi.

Tofan berjalan ke arah pintu kaca lain, juga terkunci. Lalu tiba-tiba terlihat wanita yang bersamanya lift tadi, dia menatap ke arah Tofan, dan Tofan pun menatap balik tanpa ekspresi.

Yakin hotel tutup, Tofan langsung menghubungi panitia acara, ternyata lokasi acara bukan di hotel itu, namun di gedung di belakangnya.

“Hotel itu sendiri sudah tutup. Saya bergegas ke lift, turun ke basement, ke mobil dan menuju ke lokasi acara yang dimaksud. Sekitar 10 menit saja saya berada di hotel tersebut,” ujarnya.

Hingga acara webinar selesai, Tofan tidak memikirkan apapun, namun dia heran kenapa bisa tersasar ke hotel yang sepertinya sudah tutup beberapa bulan. Saat di jalan sepulang acara, Tofan menengok ke lobi hotel tadi dari dalam mobil.

“Sepi, tanpa aktivitas. Sampai di rumah, saya runut lagi kisah 10 menit tersebut,” tulis dia.

Ada berbagai hal aneh yang menjadi pertanyaan di benak Tofan saat tersasar di hotel tersebut. Pertama, dia melihat sendiri ada taksi yang menurunkan penumpang, lalu pintu lobi hotel terkunci dan hotelnya juga sudah tutup. Di mata Tofan, peristiwa itu nyata adanya namun penuh kejanggalan. Kedua, dia merasa ada yang aneh dengan tiga orang sewaktu di lift bersamanya.

“Dalam rangka apa mereka datang ke hotel tersebut pagi-pagi? Apakah mereka juga tidak ngeh seperti saya, bahwa hotel tersebut sudah tutup karena Covid? Naik apa mereka ke hotel tersebut? Membawa mobil? Seingat saya tidak ada mobil lain yang parkir setelah saya parkir. Hanya ada dua mobil yang teronggok di basement tersebut,” batinnya.

Tofan mencoba mengingat, saat di lantai lobi hotel dia melihat sang bapak berjalan ke arah kanan dan menuju toilet. Padahal, saat Tofan putar balik ke basement, dia sempat mengamati sepertinya tidak ada toilet di sisi kanan lift. Seketika bapak itu dan OB di sana tidak tampak lagi.

“Tapi apapun, di mata saya saat itu, mereka nyata meski saya sama sekali tidak bertegur sapa,” ujar Tofan memastikan.

Keesokan harinya, dia menceritakan pengalaman aneh itu kepada tim kerja yang juga ikut dalam webinar tersebut. Rekan kerjanya tertawa, “Saya sudah tahu tentang hotel itu dari security di hotel tempat kita acara. Itu bapak kena ‘prank’ alias penampakan,” ujarnya.

Tofan tetap ragu dan tidak yakin itu penampakan. Tofan mengatakan dia termasuk orang yang sangat rasional. Sebagai seorang muslim, kata dia, Tofan mempercayai hal-hal yang ghaib (metafisik). Namun, dia tidak terlalu memperdulikan hal-hal yang irasional, termasuk cerita-cerita tentang ‘dunia lain’.

Sewaktu di rumah, kisah aneh itu dia ceritakan kepada istrinya. Lantas istrinya pun tertawa, karena sebelumnya Tofan juga pernah melihat ‘penampakan’ saat Jember. “Ayah sering melamun, jadi ada penampakan,” kata istrinya.

Namun istri Tofan tetap berusaha logis. Menurutnya, orang-orang yang ditemui Tofan di hotel itu bisa saja orang yang juga tersesat atau bekerja di sana, atau ada kegiatan di hotel tersebut. Padahal, kata Tofan, jika benar-benar kosong maka lift-nya tidak berfungsi semua, namun masih ada satu yang berfungsi meski karatan dan kacanya buram.

“Tapi kalau memang nyasar atau ada kegiatan di sana, mengapa datang pagi sekali dan membawa anak lagi. Hmmmm. Keyakinan saya mulai goyah,” ujar Tofan. Setelah panjang lebar bercerita, sang istri bertanya. “Apakah seingat ayah, mereka yang ketemu di lift dan OB-nya pakai masker?,” ujarnya.

Tofan mengingat kembali. “Saya ingat persis ma, mereka semua tidak ada yang memakai masker,” kata dia. Istrinya langsung menimpali. “Kalau tidak pakai masker, berarti mereka memang ‘orang-orang lama’ (penampakan) yah,” ujarnya.

Pengalaman tersebut menyisakan tanda-tanya bagi Tofan. Bagaimana mungkin sebuah hotel yang sudah dipastikan tutup, namun ada aktivitas ‘orang-orang’ yang tampak aneh dan penuh kejanggalan.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini