Pergerakan rupiah hari ini salah satunya dipengaruhi oleh sikap pelaku pasar yang menunggu hasil pemilihan Senator putaran kedua di negara bagian Georgia AS. Hasil pemilu tersebut akan menunjukkan kemungkinan langkah-langkah stimulus AS lebih lanjut.
Selain itu, nilai rupiah juga dipengaruhi oleh lonjakan kasus positif virus corona munculnya jenis virus corona yang telah bermutasi. Mutasi tersebut membuat Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson kembali memberlakukan kebijakan lockdown.
Pelaku pasar juga tengah menanti hasil risalah pertemuan bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed) pada hari Rabu. Presiden Cleveland Federal Reserve Bank Loretta Mester mengatakan pada hari Senin bahwa kebijakan moneter akan tetap akomodatif untuk beberapa waktu menjelang rilis.
Sementara itu, dari dalam negeri, pemerintah optimistis pemulihan ekonomi akan terjadi pada tahun ini dan dapat mencapai 5 persen.
Optimisme pemerintah didasari pada sejumlah lembaga internasional yang memprediksi tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2021 akan berada di kisaran tersebut.
World Bank memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga 4,4 persen, IMF memproyeksikan sebesar 6,1 persen,serta ADB memprediksikan 5,3 persen.
Selain itu, kabar distribusi vaksin virus corona yang telah menjangkau seluruh Indonesia juga ikut menjadi salah satu sentimen yang muncul dari dalam negeri.
Meski demikian, data Internal yang positif tidak mampu mengangkat mata uang rupiah, karena data eksternal yang kurang bersahabat. Arus modal asing pun kembali keluar dari indonesia, sehingga wajar kalau rupiah ditutup melemah
(Fakhri Rezy)