Ekonomi RI 2020 Diprediksi Masih Minus, Cek 5 Faktanya

Fadel Prayoga, Jurnalis · Senin 11 Januari 2021 07:03 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 10 320 2341890 ekonomi-ri-2020-diprediksi-masih-minus-cek-5-faktanya-zkYCk2vjuj.jpg Ekonomi RI (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Ekonomi Indonesia pada tahun 2020 diprediksi akan ditutup pada angka pertumbuhan yang minus. Hal ini karena pemerintah masih belum mampu menahan serangan krisis ekonomi dari adanya pandemi Covid-19.

Terkait hal itu, Okezone sudah merangkum beberapa fakta menarik, Jakarta, Senin (10/1/2021).

1. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2020 di Kisaran -1,7% Sampai -2,2%

Menteri Keuangan Sri Mulyani memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 di kisaran -1,7% sampai -2,2%. Dia mengatakan prediksi ini telah direvisi ini dari perkiraan sebelumnya yang di kisaran -1,7% sampai 0,6%.

"Proyeksi ekonomi Indonesia revisi. Kemenkeu keluarkan prediksi (ekonomi 2020) -2,2 sampai 1,7%" kata Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN KiTa, Rabu (6/1/2020).

Baca Juga: Di Depan Pedagang, Jokowi: Alhamdulillah Kita Tidak Sampai Lockdown 

2. APBN 2020 Defisit Rp956,3 Triliun

Bendahara negara itu mencatat defisit anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) tahun 2020 mencapai Rp956,3 triliun. Jumlah tersebut setara 6,09% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Sri Mulyani mengatakan, pemerintah memperbesar belanja untuk menangani masalah kesehatan akibat Covid-19 serta memberikan perlindungan sosial kepada masyarakat terdampak dan stimulus bagi dunia usaha. Kebijakan itu tertuang dalam program pemulihan ekonomi nasional (PEN) 2020.

"Angka ini lebih baik dari yang kami tulis di Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 72 Tahun 2020. Namun, memang defisit ini lebih besar dari undang-undang awal yang kami desain APBN defisitnya Rp307,2 triliun atau 1,76% terhadap PDB," kata Sri Mulyani dalam video virtual, Rabu (6/1/2021).

 


3. Setoran Pajak di 2020 Tekor Rp128 Triliun

 

Sri Mulyani Indrawati mengatakan realisasi penerimaan pajak pada 2020 senilai Rp1.070,0 triliun atau sekitar 89,3% dari target Rp1.198,8 triliun. Jumlah itu terkontraksi sebesar 19,7% atau terjadi shortfall atau kurang Rp128,8 triliun.

"Untuk penerimaan pajak kalau kita bandingkan per sektor, semua sektor mengalami tekanan tanpa terkecuali," katanya dalam video Rabu (6/1/2021).

4. Sri Mulyani Yakin Tahun 2021 Pertumbuhan Ekonomi Kembali 5%

Sedangkan untuk tahun 2021 masih yakin ekonomi bisa sesuai dengan perkiraan di APBN yakni di level 5,0%.

"Kita melihat di tahun 2021 akan kembali pulih yang mana kita persiapakan secara matang," jelasnya.

5. Pendapatan Turun, Para Pengusaha Efisiensi demi Bertahan

Senior Associate Director Collier Internasional Indonesia Ferry Salanto mengatakan, income dari para pelaku usaha hotel yang ada di Surabaya turun drastis di sepanjang 2020. Meskipun para pengusaha hotel sudah melakukan berbagai macam langkah efisiensi.

"Di Surabaya masih sama kita bisa lihat antara gap tingkat hunian tahun 2019 dan 2020 gapnya cukup signifikan, income dari hotel juga drastis turunnya," ujarnya dalam acara konferensi pers virtual, Rabu (6/1/2021).

Menurut Ferry, beberapa pelaku usaha hotel melakukan efisiensi pada operasionalnya. Misalnya adalah hanya dengan mengoperasikan sebagian gedungnya saja.

Selain itu, beberapa fasilitas hotel yang tersedia juga ditutup untuk mengurangi biaya operasional. Yang paling ekstrim dilakukan adalah dengan merumahkan karyawannya baik tanpa gaji ataupun mengurangi jumlah gajinya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini