Buruh Sebut Terjadi Gelombang Kedua PHK Besar-besaran, Ini Buktinya

Fadel Prayoga, Jurnalis · Selasa 19 Januari 2021 17:49 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 19 320 2347206 buruh-sebut-terjadi-gelombang-kedua-phk-besar-besaran-ini-buktinya-q8KdAh76pG.jpg Pengangguran Meningkat Akibat Pandemi. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA – Berbagai permasalahan timbul akibat adanya pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia sejak Maret 2020 lalu. Salah satu persoalan yang nampak, yaitu tingkat pengangguran yang meningkat akibat krisis ekonomi dari adanya wabah tersebut.

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal menyebut, setidaknya ada tiga persoalan utama di tahun 2021. Ketiga persoalan tersebut yaitu pandemi Covid-19 yang belum terkendali, resesi ekonomi yang makin dalam, dan ledakan PHK gelombang kedua di sektor industri manufaktur.

Baca Juga: Ini Kriteria Korban PHK yang Dapat Jaminan Kehilangan Pekerjaan

“Saat ini sedang terjadi gelombang kedua PHK besar-besaran di sektor industri manufaktur, baik labour intensive maupun capital intensive. Adanya PHK besar-berasan ini ditandai dengan menurunnya jumlah kepersertaan BPJS Kesehatan, sementara pada saat yang sama pengambilan JHT meningkat drastis,” kata Said kepada Okezone, Selasa (19/1/2021).

Baca Juga: PPKM Diperpanjang, Banyak Usaha Tutup dan Picu PHK

Dia menambahkan, buruh yang memiliki JHT pasti buruh yang bekerja di sektor formal atau industri manufaktur. Namun sebelumnya, sudah terjadi PHK gelombang pertama di sektor industri pariwisata dan turunannya serta UMKM.

“Belum juga buruh yang mengalami PHK di gelombang pertama terserap lapangan kerja, kini ledakan PHK kembali terjadi. Oleh karena itu, KSPI meminta agar pemerintah segera menyelesaikan ketiga persoalan di atas. Apalagi saat ini, persoalan tersebut sudah di depan mata,” ujarnya.

Sebelumnya, Direktur Utama BP Jamsostek Agus Susanto mengaku terjadi lonjakan klaim JHT imbas dari PHK tidak bisa dihindari, yaitu sebesar 15,22% atau sebanyak 2,2 juta pengajuan klaim JHT pada tahun 2019 dengan nominal yang juga melonjak 24,25% atau sebesar Rp26,64 Triliun.

Sepanjang tahun 2020, pembayaran klaim atau jaminan yang dikucurkan BP Jamsostek mengalami peningkatan sebesar 20,01% atau mencapai Rp36,5 triliun. Dengan perincian klaim untuk Jaminan Hari Tua (JHT) mencapai Rp33,1 triliun untuk 2,5 juta kasus, Jaminan Kematian (JKM) sebanyak 34,7 ribu kasus dengan nominal sebesar Rp1,35 triliun, Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) sebanyak 221,7 ribu kasus dengan nominal sebesar Rp1,55 triliun, dan Jaminan Pensiun (JP) sebanyak 97,5 ribu kasus dengan nominal sebesar Rp489,47 miliar.

“Tentunya kami akan selalu optimis dengan tetap waspada terhadap tantangan-tantangan yang mungkin akan muncul di depan, seperti dengan mewujudkan transformasi digital berkelanjutan. Tahun 2021 ini harus bisa dijadikan titik balik pulihnya perekonomian Indonesia setelah didera pandemi. BP Jamsostek siap mendukung upaya ini agar perlindungan menyeluruh pekerja Indonesia dapat segera terwujud”, katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini