Pemberian pinjaman selama tahun lalu sebesar Rp1,5 triliun, kewajiban penjaminan Rp3,6 triliun, dan pembiayaan lainnya Rp70,9 triliun.
Sementara itu, Ekonom Indef Bhima Yudhistira menilai jumlah ULN Indonesia cukup mengkhawatirkan karena nanti pastinya utang tersebut pun akan terus menumpuk sekaligus dengan beban bungannya.
"Sementara kondisi utang pemerintah sendiri cukup mengkhawatirkan karena pemerintah membayar USD1,1 miliar per November 2020 yang terdiri dari pokok utang dan bunga utang," kata Bhima kepada Okezone.
Dia cukup menyayangkan jumlah ULN yang kian membengkak itu tidak dibarengi dengan penerimaan valas yang seimbang. Tercatat debt to service ratio atau DSR secara tahunan masih relatif tinggi yakni 47%.
"Angka ini jauh berada di atas rata rata normal DSR pada negara berkembang," ujarnya.
Dia menjelaskan, angka DSR untuk negara berkembang itu yang sepantasnya ialah di bawah di bawah 25%.
"Filipina misalnya 9.7%, Thailand 8%, Vietnam 5.8%, Rusia 17.6%,, dan Meksiko 12.3%," kata dia.
(Dani Jumadil Akhir)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.