JAKARTA - Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani menyebut ada beberapa tantangan yang harus dihadapi dalam mengembangan lima Destinasi Super Prioritas (DSP).
Menurut dia, masing-masing destinasi wisata memiliki tantangan yang berbeda-beda. Seperti Danau Toba, koordinasi dengan kabupaten sekitar harus dilakukan oleh pemerintah.
"Jadi ini menjadi masalah karena kabupaten sekitar ini pasti punya pandangan masing-masing. Ini memang perlu di satukan pandangannya. Kemudian dukungan tokoh masyarakat dan masyarakatnya sendiri, sebab apabila berdasarkan dari informasi teman-teman yang ke sana untuk melakukan investasi itu juga mendapatkan cukup banyak pro dan kontra," ujar dia dalam webinar, Kamis (28/1/2021).
Baca Juga: Sandiaga Optimis Indonesia Jadi Destinasi Wisata Pilihan di Asean
Kemudian, kata Heriyadi, event dan atraksi dari Destinasi Super Prioritas juga perlu dilakukan peningkatan kualitasnya. Misalnya penyediaan kapal wisata yang dirasakan kurang.
"Dan beroperasinya hotel dan restoran juga harus disiapkan dengan standar pelayanan yang baik dan juga mampu meningkatkan kesadaran untuk menjaga higienitas," ungkap dia.
Baca Juga: Sandiaga Optimis Indonesia Jadi Destinasi Wisata Pilihan di Asean
Sementara itu, lanjut dia, masalah berbeda dialami oleh destinasi di Borobudur. Di mana, tantangannya lebih kepada kapasitas yang terbatas. Hal ini dikarenakan, destinasi ini memang warisan dunia sehingga harus dijaga kapasitasnya.
"Konon hanya boleh 128 orang per hari dan pada 2019 itu Borobudur hanya dikunjungi 4,6 juta orang. Maka itu bisa dibayangkan Borobudur ini juga perlu dikembangkan wilayah sekitarnya," jelasnya.