Tips Trading Saham, Jangan Gunakan Dana Pendidikan

Rabu 03 Februari 2021 14:49 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 03 278 2355794 tips-trading-saham-jangan-gunakan-dana-pendidikan-ANjN1f2ibB.jpg saham (Shutterstock)

JAKARTA - Sebagai salah satu instrumen investasi dengan imbal hasil tinggi, saham tentu bisa menjadi untuk membantu mengumpulkan dana untuk merealisasikan tujuan jangka panjang, termasuk salah satu di antaranya adalah biaya pendidikan anak. Namun menyikapi keluhan investor di forum aplikasi trading saham di Indonesia yang mengaku putus asa karena sepertinya mengalami kerugian usai menggunakan dana pendidikan anak demi membeli saham, maka perlu diperhatikan bagi masyarakat dalam perencanaan keuangan.

Menurut riset Lifepal.co.id yang terima neraca di Jakarta, kemarin, sejatinya jangan pernah menggunakan dana yang memang sudah ada dan sudah disiapkan sebagai biaya pendidikan anak untuk membeli saham. Jika hal itu terjadi, sama saja dengan menggunakan uang panas untuk berinvestasi. Sebaliknya, berinvestasilah untuk mengumpulkan atau menambah dana pendidikan anak.

 Baca juga: Investor Baru Pasar Modal Tumbuh 53,47%, Mayoritas dari Milenial

Jika memang tidak memiliki dana menganggur, anggarkan saja dana sebesar minimal 10% dari penghasilan per bulan untuk membeli saham. Belilah saham dengan metode cost averaging secara rutin per bulan. Kemudian hindari membeli saham untuk dijual dalam jangka pendek. Bila seseoranh memiliki anak yang akan masuk SD, SMP, SMA atau mendaftar kuliah dalam satu atau dua tahun ke depan. Itu artinya, seseorang akan membayar biaya pendaftaran sekolah dan biaya lainnya dalam jangka waktu pendek.

Membeli saham untuk memenuhi tujuan finansial jangka pendek bisa saja dilakukan, namun hal ini “sangat berisiko.” Transaksi di bursa sejatinya tidak jauh berbeda dengan transaksi di pasar. Hukum ekonomi berlaku dalam perdagangan tersebut, ketika suatu saham diborong banyak investor maka harganya akan meningkat, begitu pun sebaliknya.

 Baca juga: Mau Koleksi Saham-Saham Syariah? Ini Daftarnya

Fluktuasi saham dalam jangka waktu satu atau dua tahun memang sangat tinggi. Bisa saja, karena sentimen buruk yang muncul dalam jangka waktu pendek yang mempengaruhi tingkat imbal hasil. Alangkah baiknya untuk memilih instrumen rendah risiko. Sebut saja seperti deposito, surat berharga negara, atau reksa dana pasar uang.

Selanjutnya, pastikan paham dengan risiko investasi saham karena investasi saham memiliki risiko tinggi dan tidak bisa dilakukan dengan cara asal-asalan. Membeli saham sama halnya dengan membeli sebuah perusahaan. Walau kepemilikan seseorang tidak banyak, tetapi sudah membeli sebuah “bisnis.” Berinvestasi dengan membeli bisnis tentu saja membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

Maka dari itu, pahamilah analisis fundamental yang baik sebelum membeli saham untuk berinvestasi. Kenalilah rasio-rasio yang menunjukkan profitabilitas, kesehatan keuangan, dan valuasi sebuah perusahaan, bandingkan pula kinerja dari perusahaan dengan kompetitornya. Berikutnya, hindari melakukan pembelian saham hanya karena rumor atau mengikuti ajakan-ajakan teman atau tokoh-tokoh publik semata.

Itulah hal-hal yang harus dipahami seseorang atau investor sebelum memilih saham sebagai sebuah instrumen investasi untuk mengumpulkan biaya pendidikan anak. Sebelum memulai investasi ini, pastikan terlebih dulu sudah mengetahui berapa total dana pendidikan yang dibutuhkan dan berapa tahun dana tersebut ditargetkan harus terkumpul.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini