JAKARTA - PT Bank Syariah Indonesia Tbk berencana menambah modal dengan melakukan penerbitan saham baru (right issue). Melalui aksi korporasi itu, BSI menargetkan investor global sebagai pemilik saham perseroan melalui Sovereign Wealth Fund atau Indonesia Investment Authority (INA).
Wakil Menteri II BUMN Kartika Wirjoatmodjo atau Tiko menuturkan, Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHETD) tersebut akan menambah dana BSI dalam jangkah menengah.
Baca Juga: Investor Pemula Belum Telat untuk Beli Saham BRIS
"Kami ingin melakukan rights issue dan tentunya jika ada match of interest kami akan sangat terbuka untuk bekerjasama dengan investor yang ingin mengambil block seed di BSI ke depannya," ujar Tiko dalam Mandiri Investment Forum 2021, Rabu (3/2/2021).
BSI ditargetkan masuk dalam 10 bank syariah terbesar di dunia. Bahkan mampu disejajarkan dengan Bank Al-Rajhi dan Bank Albilad. Kedua bank itu merupakan dua bank yang berpusat di Riyadh, Arab Saudi dengan nilai aset masing-masing USD111,3 miliar dan USD23,6 miliar pada 2019. Sementara aset BSI pasca merger sekitar USD15 miliar.
Baca Juga: Bos OJK Yakin BSI Jadi Raja Perbankan Indonesia
Menteri BUMN Erick Thohir pun yakin Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar dunia bisa mendongkrak kinerja BSI, sehingga merger tiga bank syariah BUMN tersebut tak sia-sia.