Bawa Nikel, Hasil Investigasi Tenggelamnya MV Nur Allya Keluar Setelah 1 Tahun

Giri Hartomo, Jurnalis · Jum'at 05 Februari 2021 21:56 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 05 320 2357372 bawa-nikel-hasil-investigasi-tenggelamnya-mv-nur-allya-keluar-setelah-1-tahun-TR4wYhjSI0.jpg Laut (Shutterstock)

Adapun kronologi kejadian sendiri dijelaskan kejadian hilangnya kapal MV Nur Allya. Pada tanggal 20 Agustus 2019 pukul 15.56 WIT Kapal MV. Nur Allya berangkat dari pelabuhan Weda, Maluku Utara menuju Pelabuhan Morosi, Sulawesi Tenggara. Kapal memuat Nickel Ore sebanyak 51.500 metrik ton.

Kapal diawaki oleh 25 orang dan 2 orang pengikut. Kapal direncanakan tiba di pelabuhan Morosi pada tanggal 23 Agustus 2019.

Kemudian pada tanggal 21 Agustus 2019 pukul 03.25 WIT berdasarkan data AIS, kapal berlayar dengan kecepatan 9,5 knot dengan arah haluan 183 derajat dengan koordinat berada di posisi 01°06’0.30” LS / 128°36’0.68” BT.

Pukul 03.56 WIT dari data AIS diketahui kecepatan kapal berubah menjadi 1 knot dan haluan kapal mengarah ke 188 derajat. Pada saat itu kapal berada di koordinat 01°10’1.33” LS / 128°35’1.25” BT yang merupakan data AIS Nur Allya terakhir kali terdeteksi, setelah itu perusahaan kehilangan kontak dengan MV. Nur Allya.

Sementara itu, dari hasil investigasi dapat disimpulkan bahwa muatan Kapal MV Nur Allya mengalami likuifaksi. Hal ini tergambar dari hasil analisis kerusakan lifeboat, data AIS, adanya signal EPIRB, data hasil survey bawah air, keadaan laut yang cukup bergelombang.

Dan khususnya data keadaan kadar air dari muatan (Moisture Content - MC) pada nickle ore yang melebihi batas kadar air yang diizinkan dalam pengangkutan (Transportable Moisture Limit - TML) serta terjadinya hujan saat pemuatan.

Sementara itu, dari hasil analisis stabilitas yang telah dilakukan, maka tenggelamnya Nur Allya di Perairan Halmahera, Maluku Utara pada 21 Agustus 2019 diakibatkan Likuifaksi muatan nickel ore, dengan nilai momen likuifaksi 474.630,996 ton.

Selanjutnya, nilai lengan penegak (GZ) negative dengan momen likuifaksi yang besar, berakibat kapal secara spontan terbalik dalam periode yang sangat singkat. Kapal kehilangan stabilitas akibat terjadinya free surface dari muatannya, selanjutnya kapal terbalik dan tenggelam.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini