Share

Hasil Hubungan 5 Tahun RI-Amerika di Sektor Kelautan dan Perikanan

Taufik Fajar, Jurnalis · Rabu 17 Februari 2021 21:51 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 17 320 2363856 hasil-hubungan-5-tahun-ri-amerika-di-sektor-kelautan-dan-perikanan-M7DCIplBA3.jpg Ikan (Foto: Okezone)

JAKARTA - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama United States Agency for International Development (USAID) Indonesia resmi melakukan penutupan proyek kerja sama Sustainable Ecosystems Advanced (SEA) yang telah terjalin selama 5 tahun (2016-2021).

Sekretaris Jenderal KKP Antam Novambar mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah AS melalui USAID atas kerja sama yang baik dalam pengembangan Indonesia sebagai negara dengan potensi baharinya yang luar biasa.

“Terima kasih saya sampaikan atas kerja sama yang luar biasa selama 5 tahun ke belakang antara Pemerintah Indonesia, khususnya KKP dan Pemerintah Amerika Serikat melalui USAID yaitu sejak 2016. Selain itu terima kasih juga kami sampaikan kepada para mitra yang aktif berpartisipasi dalam menyukseskan Proyek SEA ini. Melalui SEA kita telah banyak melakukan program-program bagus sehingga banyak target dilampaui," ujar dia di Jakarta, Rabu (17/2/2021).

Baca Juga: Target Ekspor Laut Tahun Depan Naik, Intip Produk-Produk Andalannya 

Misalnya kata Antam, perikanan berkelanjutan terutama perikanan dan nelayan skala kecil, area perbaikan pengelolaan perikanan dan kawasan perlindungan perairan di Indonesia timur.

"Seperti Maluku, Maluku Utara, dan Papua Barat, begitu juga untuk pengelolaan wilayah konservasi perairan," ungkap dia.

Proyek Sustainable Ecosystems Advanced (SEA) adalah program kerja sama hibah 5 tahun yang mendukung Pemerintah Indonesia untuk melestarikan keanekaragaman hayati laut dan meningkatkan tata kelola sumber daya laut di tingkat lokal, kabupaten, provinsi, dan nasional di dalam area sasaran (Maluku, Maluku Utara dan Papua Barat).

Dengan menggunakan pendekatan berbasis ekosistem untuk pengelolaan dan melibatkan pemangku kepentingan utama, Proyek SEA meningkatkan konservasi dan penggunaan sumber daya laut secara berkelanjutan dengan mereformasi pengelolaan perikanan dan mempromosikan kawasan lindung laut untuk meningkatkan produktivitas perikanan, ketahanan pangan dan gizi, dan mata pencaharian yang berkelanjutan.

Terbukti Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI) 715 terdapat area seluas 21,7 juta hektare dalam perbaikan pengelolaan perikanan, jauh melampaui target yaitu 6 juta hektare.

Selain itu juga terdapat 17,2 juta hektare area dalam perbaikan pengelolaan dengan implementasi perencanaan tata ruang laut (marine spatial planning).

Hal utama lainnya yang menjadi target Proyek SEA adalah memperkuat peran (KKP) dan pemerintah 3 provinsi sasaran untuk mendorong konservasi dan penangkapan ikan yang berkelanjutan dengan capaian 1,6 juta hektare Kawasan Konservasi Perairan, melampaui target 1 juta hektare area konservasi.

Perlindungan ekosistem mangrove juga dilakukan pada Kawasan Konservasi Perairan Sorong Selatan seluas 336,062 hektare dan ekosistem mangrove di area penangkapan ikan tradisional 66,921 hektare di Teluk Bintuni, Papua Barat. Terlebih, selama pelaksanaan Proyek SEA tersebut adalah melibatkan nelayan lokal dalam implementasi program.

Dalam kesempatan yang sama, Ryan Washburn sebagai Direktur USAID Indonesia juga menyampaikan bahwa Pemerintah Amerika Serikat menyampaikan rasa bangga atas hasil kerja sama yang sangat baik dengan mitra multipihak ini.

"Pemerintah AS melalui USAID menyampaikan apresiasi setingginya kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan serta pemerintah ketiga provinsi terutama kepada Dinas Kelautan dan Perikanan provinsi terkait yang telah bekerja bersama dalam mewujudkan target pemerintah Indonesia dalam penguatan maritim," tandas dia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini