5 Pilihan Investasi bagi Milenial

Alya Ramadhanti, Jurnalis · Jum'at 19 Februari 2021 05:43 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 18 622 2364390 5-pilihan-invetasi-bagi-milenial-Xu9xNzEiWQ.jpeg Milenial (Ilustrasi: Shutterstock)

JAKARTA - Cerdas mengelola keuangan bukan hanya mengelola pengeluaran yang sifatnya konsumtif, namun juga menyalurkan sisa pendapatan sebagai tabungan dan investasi.

Saat ini terdapat beragam pilihan instrumen investasi atau tabungan yang bisa dipilih berdasarkan skala risiko yang dimiliki. Bisa berinvestasi langsung kepada usaha real, atau membeli produk investasi di pasar keuangan. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya.

Mengutip dari buku Milenial Cerdas Keuangan karya Aryan Danil Mirza, dkk, Jumat (18/2/2021) berikut alternatif produk investasi atau tabungan yang tersedia di pasar keuangan dan bisa dipilih.

Baca juga: Pentingnya Dana Darurat, Investasi Jangka Panjang hingga Biaya Renovasi Rumah

1. Tabungan Bank

Instrumen ini merupakan yang paling aman dan familiar bagi generasi milenial. Keunggulan produk ini adalah likuiditasnya sangat tinggi. Di mana bisa mengambilnya sewaktu-waktu dalam bentuk uang.

Namun, produk tabungan hanya memberikan imbal hasil yang sangat kecil. Umumnya hanya 1% per tahun atau kurang dari itu. Jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan tingkat inflasi yang berkisar 3-4%.

 

2. Produk Deposito

Simpanan ini umumnya perbankan memberikan imbal hasil sekitar 5-6% per tahun. Masih terdapat selisih besar jika dibandingkan inflasi. Namun perlu diketahui, simpanan uang di produk deposito hanya bisa diambil ketika jatuh tempo (bulanan, triwulan, semester atau tahunan).

Apabila uang hendak diambil di luar waktu jatuh tempo tersebut akan dikenakan denda oleh perbankan. Kelebihan instrument tabungan dan deposito perbankan adalah terdapat jaminan simpanan oleh LPS (Lembaga Penjamin Simpanan) sampai dengan 2M.

3. Obligasi

Tarif imbal hasilnya berkisar antara 7-9% per tahun dan umumnya memiliki waktu investasi yang panjang (lebih dari 3 tahun). Secara umum terdapat 2 jenis obligasi, yaitu obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah (dikenal ORI dan SUN) dan obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan obligasi yang dikeluarkan pemerintah dan dilindungi undang-undang sehingga terhindar dari peluang gagal bayar.

Sementara obligasi yang dikeluarkan oleh perusahaan tidak memiliki jaminan seperti ini, akan tetapi investasi di instrument obligasi memiliki risiko yang lebih kecil dibandingkan investasi saham dan reksadana.

4. Saham

Untuk bisa berinvestasi saham, harus membuka rekening sekuritas di salah satu perusahaan sekuritas yang ada. Adanya gerakan nabung saham akhir-akhir ini membuat milenial mudah dalam berinvestasi produk saham. Hanya dengan bermodalkan Rp100.000, sudah bisa memiliki akun dan berinvestasi salah satu perusahaan sekuritas.

Keuntungan yang didapat investasi saham adalah kesempatan memperoleh dividen (bagi hasil keuntungan) dari perusahaan. Keuntungan lain adalah bisa memperoleh capital gain, yaitu keuntungan dari selisih harga jual dan harga beli. Perlu diingat juga selain mendapat capital gain, bisa juga memiliki risiko capital loss, yakni kerugiannya. Investasi saham memiliki tingkat perubahan atau ketidakpastian yang tinggi. Oleh karena itu perlu belajar lebih jauh terkait cara analisis dan pemilihan portofolio saham yang cocok dan sesuai skala risiko yang dimiliki.

5. Reksadana

Untuk yang belum memiliki kemapuan dalam mengelola investasi saham, bisa mencoba produk reksadana. Reksadana merupakan produk investasi yang dikelola oleh manajer investasi yang berpengalaman. Umumnya manajer investasi menjanjikan imbal hasil 10-20% per tahun.

Produk reksadana juga sama-sama memiliki risiko penurunan nilai seperti halnya saham. Namun risiko ini lebih kecil sebab dikelola oleh manajer investasi. Nantinya manajer akan melakukan pemilihan portofolio saham, obligasi, valas atau produk keuangan lainnya dengan skala risiko tertentu.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini