Nilai Tukar Petani Turun, BPS Beberkan Penyebabnya

Rina Anggraeni, Jurnalis · Senin 01 Maret 2021 16:31 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 01 320 2370319 nilai-tukar-petani-turun-bps-beberkan-penyebabnya-yKM6OlCqnz.jpg Petani (Okezone)

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) mengalami penurunan pada Februari 2021. NTP Februari 2021 tercatat sebesar 103,10 atau turun 0,15% dibandingkan dengan posisi NTP bulan sebelumnya.

"Penurunan NTP dikarenakan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) naik sebesar 0,06 persen, lebih rendah dari kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) sebesar 0,21 persen," ungkap Kepala BPS Suhariyanto dalam video virtual, Senin (1/3/2021).

 Baca juga: Ini Daftar Vaksin untuk Program Vaksinasi Mandiri, Menko Airlangga: Aturan Disiapkan

Suhariyanto menjelaskan penurunan NTP Februari 2021 dipengaruhi oleh turunnya NTP di dua subsektor pertanian, yaitu NTP Subsektor Tanaman Pangan sebesar 0,84% dan Subsektor Peternakan sebesar 0,33% .

Sementara itu, NTP pada tiga subsektor lainnya mengalami kenaikan, yaitu Subsektor Tanaman Hortikultura sebesar 1,83% ; Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat sebesar 0,35% ; dan Subsektor Perikanan sebesar 0,30% .

 Baca juga: Orang Malaysia Iri Belum Vaksinasi, Menkes: RI Amankan 600 Juta Dosis Vaksin Covid-19

NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di pedesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar (terms of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi.

"Secara nasional, NTP Januari-Februari 2021 sebesar 103,18 dengan nilai It sebesar 110,68 sedangkan Ib sebesar 107,27," urainya.

Pada Februari 2021, NTP Provinsi Papua Barat mengalami penurunan terbesar (1,20 persen) dibandingkan penurunan NTP provinsi lainnya. Sebaliknya, NTP Provinsi Sumatra Selatan mengalami kenaikan tertinggi (2,02 persen) dibandingkan kenaikan NTP provinsi lainnya.

Suhariyanto menambahkan bahwa pada Februari 2021 terjadi kenaikan Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) di Indonesia sebesar 0,17% yang salah satunya disebabkan oleh peningkatan indeks pada kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,22% .

Dari 34 provinsi yang dihitung IKRT-nya pada Februari 2021, ada sebanyak 22 provinsi yang mengalami peningkatan IKRT, sedangkan 12 provinsi lainnya mengalami penurunan IKRT.

"Peningkatan IKRT tertinggi terjadi di Provinsi DI Yogyakarta sebesar 0,69% sedangkan provinsi yang mengalami penurunan IKRT terbesar terjadi di Provinsi Kepulauan Riau yaitu sebesar 0,62%," tandasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini